Mari Terus Berdakwah

Saudariku, jangan pernah berpikir bahwa dakwah membutuhkan kita, itu persepsi yang salah. Jangan pernah merasa berjasa kepada dakwah. Jangan pernah berpikir bahwa dakwah berhutang budi karena aktivitas kita.

Mari bersyukur kepada Allah, karena Dia masih memberi kenikmatan pada kita dalam berdakwah. Mari terus berjuang di jalan dakwah sampai titik terakhir. Dan tetaplah menjaga kelurusan niat ….

Mari berbuat sebaik apapun yang masih bisa kita lakukan. Mari siapkan perbekalan selagi masih ada kesempatan, sebelum datang masanya kita dihadapkan di pengadilan-Nya. Mari menjadi investor kebaikan, yang bagi hasilnya bisa dinikmati di kampung akhirat kelak.

Mari kita terus membina, dengan tidak lupa menyiapkan bekal. Learning by doing …, senantiasa berbenah. Mari terus tingkatkan kualitas dan kapasitas diri. Akan selalu ada alasan untuk membenarkan kelalaian-kelalaian kita. Tetapi …, akankah alasan-alasan itu dapat menjadi hujjah yang menguatkan kita di Yaumul Hisab kelak? Atau justru sebaliknya?

Saudariku, masih ragukah engkau menempuhi jalan dakwah ini? Padahal ada sederet alasan panjang yang mampu menguatkanmu. Tidak sadarkah engkau?

Advertisements

Nilai Waktu Kita

Roda waktu terus berputar mengikis batang usia. Sekian hari telah bergulir seiring denyut nadi dan irama napas. Tak terasa kita telah sampai di sini, saat ini. Adakah kita menyadari bahwa mentari pagi ini tidaklah sama dengan mentari pagi kemarin? Adakah kita menyadari bahwa pukul 8 pagi ini tidaklah sama dengan pukul 8 pagi kemarin?

Saudariku, waktu adalah harta yang sangat berharga dan tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Waktu yang telah berlalu tidak pernah dapat kita putar ulang. Lembar-lembar peristiwa yang sudah kita lalui telah menjadi keping-keping kenangan yang tidak mungkin terulang kembali. Kehidupan yang sudah kita tapaki telah menjadi sejarah dan tidak bisa kita hadirkan lagi. Bukankah demikian?

Saudariku, mari kita renungkan kembali firman Allah tentang waktu. Di sana kita akan menemukan bahwa Allah begitu memberikan perhatian dan penghargaan terhadap waktu. Allah telah bersumpah dengan waktu, salah satunya termuat dalam surah al-‘Ashr. Kita juga dapat menemukannya dalam surah lain seperti wal lail, wa syams, wal fajr, wa dluha. Bagaimanakah dengan kita? Seberapa besar penghargaan yang telah kita berikan terhadap waktu?

Setiap hari Allah memberikan jatah waktu 24 jam secara cuma-cuma kepada kita. Bagaimanakah kita memanfaatkan jatah waktu tersebut? Adakah kita memanfaatkannya dengan baik? Ataukah sebaliknya, kita tidak begitu ambil peduli? Barangkali ada di antara sebagian kita yang merasa bahwa waktu 24 jam dalam sehari terasa masih kurang. Berbagai aktivitas dan amanah dilakukannya dari pagi hingga pagi kembali. Hidupnya terasa begitu dimanis dan berirama. Akan tetapi, ada pula sebagian lain yang merasa waktu berjalan begitu lambat. Hari-hari dilaluinya dengan kepayahan. Dua puluh empat jam dalam sehari habis untuk makan, tidur, ngerumpi, dan nonton. Masya Allah!

Sebenarnya, bentuk pemanfaatan waktu yang kita lakukan dalam keseharian menunjukkan kadar syukur kita kepada Allah. Lalu, termasuk bersyukurkah kita? Cobalah sejenak untuk mencernanya dalam hati agar dapat melakukan koreksi diri.

Sebagai insan beriman, sudah seharusnya kita menghargai nikmat waktu yang telah Allah limpahkan. Jangan biarkan waktu berlalu dalam kehampaan dan kesia-siaan. Menyia-nyiakan waktu hanya akan membuahkan penyesalan, baik di dunia maupun akhirat. Bahkan, kesuksesan hidup di dunia dan akhirat dapat teraih jika kita memberikan penghargaan terhadap waktu.

Ssaudariku, sampai detik ini Allah swt. masih memberikan nikmat waktu kepada kita. Dengan nikmat tersebut kita masih dapat menghirup udara di alam fana ini. Entah sampai kapan nikmat itu dapat terengkuh, kita tidak pernah tahu …. Mungkin kita masih dapat menikmatinya beberapa tahun lagi. Atau …, mungkin juga beberapa detik lagi nikmat waktu tersebut diambil oleh-Nya. Karenanya, sesalilah sekian waktu yang telah kita lalui dalam kesia-siaan. Menyesallah sekarang selagi masih ada kesempatan. Dan jangan ditunda lagi. Jangan sampai kita menyesal di mana penyesalan itu tiada lagi berarti. Jadikan penyesalan itu sebagai cambuk untuk membenahi diri menjadi lebih baik.

Dua puluh empat jam dalam sehari adalah waktu yang sangat berarti. Kita dapat melewatinya dengan berbagai hal yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Kita dapat melakukan berbagai kebajikan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Jika perlu, kita dapat membuat agenda kegiatan agar waktu kita termanfaatkan secara optimal. Bahkan, di sela-sela kesibukan yang ada, kita sebenarnya masih bisa memanfaatkan waktu untuk hal lain. Saat menunggu jemputan, kita dapat memanfaatkannya untuk muraja’ah hafalan atau membaca buku. Saat memasak atau mencuci, kita dapat memanfaatkannya sambil berdzikir. Saat menyetrika, kita dapat mendengarkan ceramah dari kaset rekaman ataupun MP3. Dan masih banyak lagi dan masih banyak lagi. Jadi, mulai sekarang, kita dapat menghapus istilah wasting time dalam kamus hidup kita. Dengan begitu, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Mencintai Suami

Menikah? Satu kata itu banyak menggelitik terutama bagi mereka yang belum menikah. Betapa tidak? Menikah merupakan sebuah nikmat yang tidak setiap orang mendapatkannya, apalagi menikah dengan orang yang tepat. Tidak sedikit kita mendengar mereka yang sudah menjalin hubungan asmara sebelum menikah–pacaran–selama bertahun-tahun, yang katanya dengan pacaran itu bisa untuk menjajaki dan saling mengenal satu sama lain, ternyata pernikahannya kandas hanya dalam hitungan bulan. Betapa mereka yang menikah karena calonnya seorang hartwan, mempunyai status sosial yang cukup tinggi, wajah yang menawan, toh menjalani pernikahannya dalam isak tangis dan kesedihan yang berkepanjangan.

Sadarilah, bahwa menikah itu menyatukan dua hati, dua kepribadian. Pernikahan yang langgeng kebahagiaannya hanyalah pernikahan yang dibangun atas dasar takwa, pernikahan yang diawali dengan kelurusan niat untuk menjaga diri dari fitnah dan untuk meraih keridhaan Allah. Pernikahan yang dibangun di atas takwa tidak akan menimbulkan kekecewaan ketika mendapati pasangan yang memiliki kekurangan, karena diri sendiri juga tidak lepas dari hal demikian. Pernikahan yang dibangun karena takwa, tidak akan menimbulkan perselisihan berkepanjangan ketika ada masalah dengan pasangan karena satu sama lain berusaha mencari jalan keluar demi keutuhan rumah tangga dan tetap teraihnya keridhaan-Nya. Pernikahan yang dibangun di atas landasan takwa akan selalu berusaha menjaga perasaan pasangan, adanya saling kepedulian, menikmati suka duka bersama. Itulah pernikahan yang indah. Pernikahan yang banyak dirindukan oleh mereka yang sedang mengalami badai rumah tangga.

Aku bahagia dengan pernikahanku. Aku bahagia dengan keluargaku. Aku bahagia bersama suamiku. Bukan karena suamiku tidak punya kekurangan, tapi aku pun menyadari bahwa aku pun demikian. Semua adalah karena nikmat Allah. Nikmat yang berusaha selalu kusyukuri agar Allah menambahkan nikmat yang lain untukku dan keluargaku. Bukan maksudku untuk membuat pembaca cemburu dengan kebahagiaanku, hanya ingin berbagi, berbagi kepada mereka yang sedang membangun rumah tangga tetapi sering mengalami goncangan hingga seakan bangunannya mau runtuh.

Saudariku, engkau yang sedang dirundung masalah rumah tangga, ambillah jeda sejenak untuk introspeksi. Jika ada yang salah dengan niat awal pernikahanmu, segeralah membenahinya, segeralah engkau meluruskan niat demi Allah semata. Jika jalan yang engkau tempuh menuju pernikahan adalah jalan yang salah, engkau menempuhnya melalui jalan pacaran sebelum akad nikah, maka bertaubatlah, sungguh Allah Maha Pengampun kepada hamba-Nya. Jika suamimu mengacuhkanmu, doakanlah dia, cobalah untuk memperbaiki sikapmu, juga memperbaiki hubunganmu dengan Allah. Jika masalah rumah tangga seakan tak kunjung habisnya, perbanyaklah istighfar, mengadulah kepada sebaik-baik pemberi solusi, Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh Allah tidak pernah mengabaikan hamba-Nya, justru kita yang sering lalai kepada-Nya.

Saudariku, jika ada yang tidak sesuai dari harapanmu terhadap suamimu, sadarilah bahwa suamimu adalah manusia biasa. Jangan terlalu fokus pada kekurangannya, tapi lihatlah segala kebaikannya. Jangan sampai setitik kekurangannya menutupi hatimu dari deretan kebaikan yang disuguhkannya padamu. Kekurangan yang ada bisa diperbaiki bersama. Dan jalinlah komunikasi yang positif dengan suamimu, karena tidak sedikit mereka yang memendam masalah, menghendaki hal-hal dari suaminya tanpa pernah menyampaikannya, dan akhirnya memendam lara sendiri.

Saudariku, percayalah, bahwa pernikahan yang sudah engkau miliki, itu adalah nikmat Allah yang harus engkau jaga. Betapa mereka di luar sana banyak yang sudah cukup usia untuk menikah, tetapi Allah belum mempertemukan dengan jodohnya–aku doakan semoga mereka diberi kesabaran dan segera dipertemukan dengan orang yang tepat–. Ingat-ingatlah hal itu, supaya engkau bersyukur dengan nikmat pernikahan yang sudah engkau raih dan berusaha memperbaiki yang ada.

Tetap Memikat Meskipun Sedang Haid

Saudariku, sudah menjadi fitrah seorang wanita bahwa setiap bulan dia mendapat jadwal haidh (datang bulan). Tentu saja, ada kebiasaan yang berubah ketika kita sedang mengalami masa haid dibandingkan hari biasa. Ketika haidh, Allah melarang kita melakukan jima’ dengan suami. Larangan ini tercantum sangat jelas dalam firman Allah,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah [2]: 222)

Melalui firman-Nya, Allah menjelaskan bahwa haidh adalah kotoran. Apabila suami istri melakukan jima’ pada saat istrinya sedang haidh, maka hal itu dapat mendatangkan penyakit berbahaya baik bagi istri ataupun sang suami. Sebagai kotoran, darah haidh adalah darah najis yang mengandung banyak kuman. Oleh karena itu larangan Allah tersebut mengandung hikmah yang sangat besar.

Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa yang mendatangi wanita (menjima’ istrinya) yang haidh atau pada liang anusnya atau mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang dikatakannya, sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah.” (HR Ash-Habussunnah kecuali Nasa’i). Larangan Allah dan Rasul-Nya ini bersifat jelas dan haram jika dilakukan. Oleh karena itu saudariku, perhatikanlah larangan ini dan jauhilah.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika sedang haidh sementara suami membutuhkan kita? Tidak usah bingung. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan terbaik kita telah memberikan bimbingan dan arahan untuk kita. Yang jelas, selama masa haidh kita dilarang melakukan jima’ dengan suami. Hanya saja, untuk yang lainnya kita masih dibolehkan. Kita boleh bersenang-senang dan melakukan cumbu rayu dengan suami. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan kepada seseorang di antara kami untuk mengenakan kain, kemudian suaminya boleh tidur bersamanya.” Pada waktu lain Aisyah mengatakan, “Boleh mencumbuinya atau bersenang-senang dengannya.” (HR Bukhari Muslim). Mengenakan kain di sini maksudnya menutup anggota tubuh bagian bawah, yaitu antara pusar dan lutut.

Dalam riwayat lain, ketika ditanya tentang jima’ semasa seorang istri menjalani masa haidh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, meskipun sedang haidh, kita tetap harus berusaha tampil cantik di depan suami. Kita juga harus belajar menjaga dan mengendalikan emosi, karena biasanya pada masa haidh kondisi emosi wanita menjadi labil. Jika memang kita mengalami kondisi emosi yang labil ada baiknya kita menjaga jarak atau menjauh sebentar dari suami agar tidak terucap kata atau terjadi tindakan kita yang tidak menyenangkan suami.

Kita juga perlu memahamkan kepada suami bagaimana kondisi kita ketika sedang haidh. Selain emosi yang labil, biasanya wanita mengalami gangguan konsentrasi dan keadaan fisik yang kurang fit. Dengan memahamkan ke suami, insyaAllah suami dapat memperlakukan kita secara bijaksana ketika masa haidh. Dan perlu kita ketahui, apa yang berlaku ketika haidh, juga berlaku saat seorang wanita mengalami masa nifas. Pada dua keadaan ini (haidh dan nifas), wanita dilarang berjima’ dengan suaminya.

Istri Idaman Pandai Menyimpan Rahasia Suami

pantun cintaSaudariku, sudah hal yang sewajarnya ketika seorang suami menaruh kepercayaan kepada istrinya, mencurahkan hal-hal terpendam yang membuatnya menjadi tenang. Karenanya, seorang istri idaman tentunya akan pandai menyimpan dan menjaga rahasia suaminya sehingga cukup hanya dirinya saja yang tahu. Dengan begitu suami menjadi tenang dan cinta yang telah tumbuh menjadi semakin mengakar.

Saudariku, sebagaimana kita ketahui, waktu adalah nikmat yang sangat berharga. Alangkah meruginya jika waktu yang kita punya banyak dihabiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, apalagi membicarakan rahasia keluarga dan suami. Kita perlu menyadari bahwa menyebarkan rahasia keluarga hanya akan mengundang masalah sehingga dapat menghancurkan tiang-tiang rumah tangga itu sendiri.

Dalam kehidupan rumah tangga, kita tentunya memiliki banyak rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh kita dan pasangan. Seorang suami pastilah menceritakan hal-hal rahasia yang dimilikinya kepada istrinya. Maka pandai-pandailah menjaganya agar tidak diketahui orang lain sekalipun anak dan keluarga dekat.

Suatu kisah yang dapat kita ambil hikmahnya adalah apa yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pernah terjadi pembicaraan antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Hafshah dan beliau sangat merahasiakan pembicaraan itu. Akan tetapi, Hafshah menceritakannya kepada Aisyah sehingga terjadi persengkokolan di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memisahkan diri dari istri-istrinya selama sebulan karena kekecewaan beliau yang sangat kepada mereka. Kisah ini tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 3:

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lalu Allah mengingatkan kesalahan Hafshah dan Aisyah dan memerintahkan keduanya agar segera bertaubat agar hatinya kembali kepada Allah,

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (QS At-Tahrim [66]: 4)

Di ayat selanjutnya, Allah memberikan ancaman keras kepada keduanya jika mereka masih berpegang pada kesalahannya.

عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS At-Tahrim [66]: 5)

Dari kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an tersebut, terdapat hikmah sangat besar yang bisa diambil para wanita tentang nilai pemeliharaan wanita terhadap rahasia suami dan pengaruh pemeliharaan tersebut bagi keteguhan jiwa dan ketenangan rumah tangga.

Saudariku, termasuk dalam perkara ini juga adalah menjaga rahasia hubungan suami istri. Sadarilah bahwa membicarakan hubungan intim suami istri merupakan pembeberan rahasia yang paling buruk dan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berakhlak buruk.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat ialah seorang lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian ia membeberkan rahasia istrinya.” (HR Muslim).

Hadits tersebut mengandung larangan bagi laki-laki menceritakan rahasia hubungan seksualnya dengan istrinya. Dan larangan ini tidak terbatas untuk kaum laki-laki saja, untuk kaum wanita pun dilarang melakukan hal yang demikian.

Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid bahwa ketika dia berada di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada sejumlah kaum lelaki dan wanita yang sedang duduk, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Adakah seorang lelaki yang menceritakan apa yang telah dilakukannya dengan istrinya dan adakah seorang wanita yang menceritakan apa yang telah dilakukan dengan suaminya?”

Kaum yang hadir semuanya diam. Lalu aku (Asma’) berkata, “Ya, demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sesungguhnya mereka (kaum wanita) ini benar-benar melakukannya dan sesungguhnya mereka pun (kaum lelaki) benar-benar melakukannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jangan kamu lakukan! Sesungguhnya hal itu tidak ubahnya seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan wanita di jalan, lalu setan laki-laki itu menyetubuhinya, sedang orang-orang menyaksikannya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)

Penyuluhan Thibbun Nabawi

Alhamdulillah, tanggal 14 Desember 2014 kemarin, saya dapat amanah mengisi penyuluhan thibbun nabawi untuk ibu-ibu di lingkungan sekolah Al Wahdah. Kegiatan dikemas dalam bentuk bakti sosial berupa penyuluhan dan bazaar murah serta pemberian santunan kepada masyarakat sekitar.

Alhamdulillah kegiatan ini cukup meriah, dihadiri tidak kurang dari 50 ibu-ibu. Pesertanya ibu-ibu karena penyelenggaranya dari Lembaga Muslimah Wahdah Islamiyah. Senang bisa berbagi. Terima kasih pula kepada tim panitia bakti sosial Lembaga Muslimah Wahdah Islamiyah Yogyakarta yang telah memberi saya kesempatan untuk berbagi ilmu.

Bahagia melihat antusiasme ibu-ibu. Karena temanya memang cukup baru bagi mereka. Saya mengambil tema, “Mengapa Rasulullah Jarang Sakit?” dengan harapan masyarakat lebih mengenal gaya hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sedikit cuplikan, bahwa gaya hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mencakup dari pola makan dan pola tidur, tapi juga rangkaian ibadah beliau yang kalau dicermati sangat terkait dengan kesehatan. Ya, kalau mau dicermati, setiap ibadah yang disyariatkan dalam Islam, ada imbas kesehatan yang dapat kita petik. Sebagaimana gerakan shalat sangat terkait dengan tulang belakang, wudhu yang benar mempengaruhi syaraf-syaraf, posisi tidur, cara makan dan minum, dan masih banyak lagi.

Syukur Alhamdulillah atas nikmat Islam ini. Alhamdulillah ditemukan jalan mengenal thibbun nabawi dan orang-orang yang memiliki visi-misi yang sama. Semoga ke depan saya bisa semakin optimal dalam memberi manfaat bagi masyarakat dan tentu saja dakwah islamiyah, melalui thibbun nabawi ini.

IMG-20141220-WA0013 IMG-20141220-WA0016 IMG-20141220-WA0015

 

 

 

Mencintai, Mestikah berarti Dicintai?

Mencintai itu sesuatu. Dicintai itu lebih dari sekedar sesuatu. Siapa pun bisa mengaku mencintai Allah, mencintai Rasulullah. Akan tetapi terkadang pada amaliyahnya akan teruji kebenaran dari pernyataan tersebut. Akan teruji seberapa besar kadar cinta yang telah diikrarkan. Apakah kadarnya murni 100%, 50%, atau justru pernyataan cinta yang palsu, hanya di bibir saja. Belum tentu mereka yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendapat balasan cinta dari Allah dan Rasul-Nya. Karena cinta itu butuh pengorbanan, butuh kesiapan untuk mengalah dan meruntuhkan ego demi membahagiakan yang dicintai.

Bagaimana bisa mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, sementara apa yang menjadi kecintaan Allah dan Rasul-Nya enggan untuk dipenuhi, justru melakukan sesuatu yang tidak dicintai Allah dan Rasulullah. Apakah dengan cara itu, cinta yang dikrarkan akan berbalas? Atau justru bertepuk sebelah tangan? Ah, ini hanya pertanyaan retorik ….

Barangkali saya pribadi, Anda, atau mungkin orang-orang di sekitar kita melakukan hal yang demikian. Mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, tapi membuat yang dicintai murka …. Benarkan demikian?

Di sinilah letak pentingnya ILMU, mengenal Islam lebih dekat, tidak cukup memuaskan diri pada pelajaran agama yang pernah kita terima di bangku sekolah. Tapi menimba lebih dalam, mengenal Islam dengan pengenalan yang benar, hingga akan terkuak bahwa pada beberapa hal ternyata kita melakukan hal-hal yang tidak dicintai Allah dan Rasulullah, mengabaikan hal-hal yang dicintai oleh Allah dan Rasulullah. ILMU inilah yang akan menjadi penerang kita dalam melakukan amaliyah, sehingga kita melakukan sesuatu tidak sekedar tiru-tiru, tidak sekedar nyonto dari leluhur, tapi karena kepahaman terhadap ajaran Islam. Berbuat dan beramal dengan dasar yang benar, bukan sekedar suara mayoritas yang memberikan dukungan. Dengan ILMU inilah kita akan tahu bahwa ada hal-hal yang menjadi kegemaran kita tapi ternyata Allah dan Rasulullah melarangnya. Ada hal-hal yang kita enggan melaksanakannya, ternyata menjadi syarat dari pernyataan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mari sedikit kita telisik hal seperti apa yang terkadang, mungkin tanpa disadari, merupakan bentuk jawaban atas ikrar cinta kita yang tidak tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. Misal? Allah dan Rasulullah mencintai muslimah–wanita yang sudah baligh—untuk menutup aurat sesuai tuntutan syari’at. Ya, sesuai tuntutan syariat, bukan sesuai tuntutan hati atau tuntutan mode, apalagi tuntutan lingkungan. Hal yang cukup memiriskan hati saat ini, mode busana muslimah begitu beragam, dengan segala aksesoris dan ragam coraknya. Hingga esensi dari menutup aurat itu menjadi sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan. Yang muncul ke permukaan adalah busana muslimah tanpa jati diri, busana yang katanya islami tapi senyatanya merendahkan diri dan jauh dari apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Katanya berbusana muslimah tapi lekuk tubuh jelas terlihat. Katanya berbusana muslimah tapi dada masih begitu menantang (malu sebenarnya saya menuliskan ini, tapi lebih malu jika hal ini tidak saya sampaikan). Katanya berbusana muslimah tapi bayangan tubuh begitu mengguncang mata lelaki yang memandang, tipis nian dan transparan. Katanya berbusana muslimah tapi modelnya begitu rupa hingga memancing mata untuk meliriknya. Katanya berbusana muslimah tapi dengan entengnya berjabat tangan bahkan colak colek dan boncengan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.

Anjuran menutup aurat itu diperintahkan agar wanita tidak menarik perhatian orang. Agar dirinya terjaga dari mata-mata liar, dari nafsu yang tidak terkendali. Agar keindahan yang dimilikinya hanya dipersembahkan untuk orang yang hak, orang yang memang pantas mendapatkannya, bukan sembarang orang di sembarang tempat.

Yah, saya menyadari, masih banyak saudariku di luar sana yang belum memahami secara benar kaidah berbusana muslimah. Mereka yang merasa sudah berbusana muslimah tapi sebenarnya belum sesuai tuntunan syari’at, saya berhusnuzhan bahwa mereka bukan bermaksud menggadaikan cinta yang telah dikrarkan, tapi memang masih sebatas itu yang dipahaminya. Seperti itu teladan yang dilihatnya dari orang-orang di sekitar yang dianggapnya paham agama. Seperti itu lingkungan mengajarkannya. Saya senantiasa menaruh harapan dan doa semoga pada akhirnya saudari-saudariku tersebut mendapatkan jalan dan kemudahan hingga bisa memahami kaidah syari’at secara benar dalam berbusana muslimah, hingga bisa menerapkannya pada diri sendiri dan menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Aamiin ….

Barangkali yang sedang membaca tulisan saya ini merasa tersentil? Ah, tidak mengapa. Alhamdulillah jika tersentil. Jika kemudian timbul pertanyaan, lalu saya harus bagaimana? Seperti apa sebenarnya berbusana muslimah yang sesuai syari’at Islam? Karena di kampung saya juga guru agamanya berjilbab hanya ketika ngajar. Karena yang saya pahami, kalau tidak mau jabat tangan dengan lawan jenis itu Islam fanatik. Saya harus bertanya kepada siapa?

Saya sebenarnya tahu seperti apa berbusana muslimah yang syar’i, tapi lingkungan tidak mendukung saya. Saya ingin menerapkan seperti apa yang saya pahami, tapi takut dibilang ekstrim, dibilang calon istri teroris. Saya takut dikucilkan. Saya takut tidak punya teman. Saya belum siap dengan sindiran dan tatapan aneh ketika busana muslimah syar’i saya kenakan.

Dan mungkin masih banyak deretan argument untuk membenarkan diri ….

Marilah ke sini, saya kasih solusi alternatif. Mintalah pertolongan kepada Allah agar senantiasa ditunjukkan kepada jalan kebenaran. Ihdinash shiraathal mustaqiima. Jika kita mencari kebenaran dengan jujur, maka Allah akan menolong kita, menunjukkan kita pada arah yang benar. Allah akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang dapat menjadi wasilah, menjadi jalan bagi kita untuk berubah. Seumpama kita seekor ulat yang tidak menarik, berubah menjadi kupu-kupu yang indah yang menawan hati.

Kemudian, belajarlah. Memahami Islam tidak bisa sim salabim layaknya tukang sihir, atau dengan mandi kembang tujuh rupa tiba-tiba kita bisa memahami syari’at Islam dengan benar. Tapi dengan menimba ilmu. Juga berkumpul dengan orang-orang shalihah, dengan penjual minyak wangi yang dapat memercikkan keharumannya pada kita, bukan dengan pandai besi yang memercikkan api ….

Dan sadarilah bahwa menjadi baik, menjadi lebih baik itu butuh proses, butuh waktu, tidak serta merta. Dengan berjalannya waktu, setahap demi setahap, dengan senantiasa menjaga kelurusan niat, insyaAllah kita bisa berproses menjadi baik, menjadi lebih baik. Kita bisa berproses memurnikan kadar kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, hingga pada akhirnya kecintaan kita tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Sekali lagi berproses.

Dan bagi yang sudah paham, yakinlah, intanshurullaha yanshurkum, jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita. Bagaimana mungkin kita lebih takut dengan cemoohan orang yang kejahatannya tidak akan mencelakai kita tanpa izin dari Allah, sementara kita justru mengabaikan rasa takut akan azab Allah karena mengabaikan perintah-Nya yang sudah kita pahami.