Nilai Waktu Kita

Roda waktu terus berputar mengikis batang usia. Sekian hari telah bergulir seiring denyut nadi dan irama napas. Tak terasa kita telah sampai di sini, saat ini. Adakah kita menyadari bahwa mentari pagi ini tidaklah sama dengan mentari pagi kemarin? Adakah kita menyadari bahwa pukul 8 pagi ini tidaklah sama dengan pukul 8 pagi kemarin?

Saudariku, waktu adalah harta yang sangat berharga dan tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Waktu yang telah berlalu tidak pernah dapat kita putar ulang. Lembar-lembar peristiwa yang sudah kita lalui telah menjadi keping-keping kenangan yang tidak mungkin terulang kembali. Kehidupan yang sudah kita tapaki telah menjadi sejarah dan tidak bisa kita hadirkan lagi. Bukankah demikian?

Saudariku, mari kita renungkan kembali firman Allah tentang waktu. Di sana kita akan menemukan bahwa Allah begitu memberikan perhatian dan penghargaan terhadap waktu. Allah telah bersumpah dengan waktu, salah satunya termuat dalam surah al-‘Ashr. Kita juga dapat menemukannya dalam surah lain seperti wal lail, wa syams, wal fajr, wa dluha. Bagaimanakah dengan kita? Seberapa besar penghargaan yang telah kita berikan terhadap waktu?

Setiap hari Allah memberikan jatah waktu 24 jam secara cuma-cuma kepada kita. Bagaimanakah kita memanfaatkan jatah waktu tersebut? Adakah kita memanfaatkannya dengan baik? Ataukah sebaliknya, kita tidak begitu ambil peduli? Barangkali ada di antara sebagian kita yang merasa bahwa waktu 24 jam dalam sehari terasa masih kurang. Berbagai aktivitas dan amanah dilakukannya dari pagi hingga pagi kembali. Hidupnya terasa begitu dimanis dan berirama. Akan tetapi, ada pula sebagian lain yang merasa waktu berjalan begitu lambat. Hari-hari dilaluinya dengan kepayahan. Dua puluh empat jam dalam sehari habis untuk makan, tidur, ngerumpi, dan nonton. Masya Allah!

Sebenarnya, bentuk pemanfaatan waktu yang kita lakukan dalam keseharian menunjukkan kadar syukur kita kepada Allah. Lalu, termasuk bersyukurkah kita? Cobalah sejenak untuk mencernanya dalam hati agar dapat melakukan koreksi diri.

Sebagai insan beriman, sudah seharusnya kita menghargai nikmat waktu yang telah Allah limpahkan. Jangan biarkan waktu berlalu dalam kehampaan dan kesia-siaan. Menyia-nyiakan waktu hanya akan membuahkan penyesalan, baik di dunia maupun akhirat. Bahkan, kesuksesan hidup di dunia dan akhirat dapat teraih jika kita memberikan penghargaan terhadap waktu.

Ssaudariku, sampai detik ini Allah swt. masih memberikan nikmat waktu kepada kita. Dengan nikmat tersebut kita masih dapat menghirup udara di alam fana ini. Entah sampai kapan nikmat itu dapat terengkuh, kita tidak pernah tahu …. Mungkin kita masih dapat menikmatinya beberapa tahun lagi. Atau …, mungkin juga beberapa detik lagi nikmat waktu tersebut diambil oleh-Nya. Karenanya, sesalilah sekian waktu yang telah kita lalui dalam kesia-siaan. Menyesallah sekarang selagi masih ada kesempatan. Dan jangan ditunda lagi. Jangan sampai kita menyesal di mana penyesalan itu tiada lagi berarti. Jadikan penyesalan itu sebagai cambuk untuk membenahi diri menjadi lebih baik.

Dua puluh empat jam dalam sehari adalah waktu yang sangat berarti. Kita dapat melewatinya dengan berbagai hal yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Kita dapat melakukan berbagai kebajikan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Jika perlu, kita dapat membuat agenda kegiatan agar waktu kita termanfaatkan secara optimal. Bahkan, di sela-sela kesibukan yang ada, kita sebenarnya masih bisa memanfaatkan waktu untuk hal lain. Saat menunggu jemputan, kita dapat memanfaatkannya untuk muraja’ah hafalan atau membaca buku. Saat memasak atau mencuci, kita dapat memanfaatkannya sambil berdzikir. Saat menyetrika, kita dapat mendengarkan ceramah dari kaset rekaman ataupun MP3. Dan masih banyak lagi dan masih banyak lagi. Jadi, mulai sekarang, kita dapat menghapus istilah wasting time dalam kamus hidup kita. Dengan begitu, semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

Advertisements

Renungan untuk Muslimah (Calon) Penghuni Surga

embunpagiSaudariku …, sudah sekian masa kita lewati. Sudah sekian waktu bergulir melibas batang usia, mengurangi jatah waktu kita menikmati kehidupan di dunia fana ini. Perlahan namun pasti, kita sama-sama digiring menuju sebuah fase yang sering kita abaikan dan lupakan: kematian.

Yah, kematian. Enggan rasanya membahasnya. Sangat tidak tertarik untuk mendiskusikannya. Seakan tidak ada waktu untuk sejenak memikirkannya. Sebuah bahasan yang serasa tidak penting dan tidak ada artinya dibandingkan dengan bahasan model busana, menu masakan, ataupun bergosip ria.

Masya Allah …. Lalaikah kita ini, saudariku? Padahal kematian itulah yang selalu mengintai kita di setiap saat. Sebuah kepastian yang tidak akan bisa kita ingkari, satu peristiwa yang tidak mungkin kita tolak kehadirannya.

Saudariku, sadarkah engkau bahwa langkah-langkah kita sedang menuju padanya? Bahwa detak-detak waktu yang terus bergulir ini sedang menuntun kita menuju tempat di mana Malaikat Maut bakal mencabut ruh dari badan kita?

Bukankah setiap kita akan mendatangi tempat matinya …?

Saudariku, begitulah kematian itu …. Dia datang tanpa permisi, tanpa basa-basi. Tanpa persetujuan kita, siap tidak siap, suka tidak suka …, ketika memang sudah saatnya, kita bakal meninggalkan jasad ini.

Dan apa sesudah kematian itu, saudariku? Apakah kita masih bisa menikmati dinginnya air wudhu dan heningnya suasana di sepertiga malam? Apakah kita masih bisa menyisihkan sebagian harta untuk berinfak di jalan Allah? Apakah kita masih bisa tegak di atas kedua kaki untuk mendirikan shalat?

Ketika kematian itu telah menyapa kita, apakah kita masih bisa menghadiri majelis ilmu? Apakah kita masih bisa bahu membahu dalam amal jama’i? Apakah kita masih bisa memperdengarkan suara untuk menyampaikan untaian kebaikan di jalan dakwah? Apakah kita masih bisa berdaya upaya untuk merangkul orang-orang di sekitar kita agar lebih mengenal Islam? Apakah kita masih bisa menjadi wasilah kebaikan bagi muslimah lain yang masih asyik dengan gemerlapnya dunia? Apakah kita masih bisa mengisi kantong-kantong bekal kita dengan amal kebaikan? Masih bisakah itu semua kita lakukan, saudariku?

Saudariku, engkau sudah menemukan jawabannya … dan engkau tahu harus bagaimana. Atau …, engkau masih bingung harus seperti apa dalam sisa waktu yang masih ada ini?

Saudariku, marilah kita renungkan sejenak …. Bukankah kita kelak tidak akan sanggup ketika kaki tergelincir dan terperosok jatuh saat meniti titian shirat? Bukankah kita kelak tidak akan sanggup meminum darah dan nanah? Bukahkah kita tidak akan sanggup mengenakan pakaian dari bara api? Bukahkah kita kelak tidak akan bisa menikmati sepersekian detik pun kehidupan di dalam neraka?

Dan bukankah kita merindukan, kelak bisa bersanding bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah kita kelak ingin menikmati harumnya surga dan segala keindahan di dalamnya? Bukankah kita kelak merindukan kehidupan kekal yang penuh cinta dan kasih sayang? Dan kita pun merindukan untuk menatap wajah-Nya yang agung, bukan?

Lalu, tunggu apalagi saudariku? Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada waktu untuk meluruskan langkah yang sempat berbelok, menata hati yang sempat terkoyak. Mari hiasan putaran masa yang masih tersisa ini dengan memenuhi hak-hak NYA yang sudah banyak kita abaikan. Mari lebih mendekat pada Al Qur’an dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, agar langkah-langkah ke depan menjadi lebih baik, lebih tertata. Mari hiasi hari-hari dengan ketaatan untuk meraih ridha-Nya. Semoga kelak kita bisa berkumpul dalam kebaikan dan menjadi muslimah penghuni surga.

Waktu, Harta yang Tercuri

Entah sudah berapa banyak harta kita yang satu ini tercuri setiap harinya. Anehnya, jarang sekali yang merasa telah menjadi korban pencurian. Mungkin hanya sedikit sekali yang melakukan pengaduan kepada yang berhak menerima pengaduan atas kasus ini. Lebih parahnya lagi, tidak sedikit yang tidak merasa dirugikan dalam kasus pencurian ini. Masya Allah! Padahal kasus pencurian yang satu ini bisa dikategorikan sangat merugikan korbannya, lho. Bayangkan saja! Sekali tercuri, harta yang satu ini nggak bakalan bisa diambil lagi alias raib alias hangus bin musnah bin tak tergantikan. Nggak ada yang namanya ganti rugi atas kasus pencurian yang satu ini.

Naasnya, harta itu sebenarnya bukan milik kita. Lho, kok? Ya iyalah. Harta itu merupakan amanah yang harus kita pertanggungjawabkan penggunaannya. Apesnya, ntar kalau pas dimintai pertanggungjawaban, kita kehilangan dalih, nggak bisa berargumen alias membela diri. Buntut-buntutnya, kita bakalan nyesal. Nyesal dimana penyesalan itu sudah nggak ada artinya lagi. Rugi banget, kan?! Harapannya ya kita jangan sampai mengalami kejadian tragis seperti itu. Tapi, kira-kira kita punya antisipasi nggak ya?

Mungkin …, beberapa orang di sekitar kita –atau malah kita sendiri (?)– disibukkan dengan sandal butut yang dicuri orang saat ikut jama’ah sholat di masjid. Akibatnya, kejadian itu dijadikan sebagai hujjah atau alasan untuk jauh-jauh dari yang namanya masjid –alasan yang tidak beralasan, bukan?–. Bahkan dari sepasang sandal butut yang terpaksa raib karena diminati orang lain tanpa sepengetahuan kita, adrenalin naik tanpa terkendali. Ups, sampai-sampai penghuni kebun binatang kita daftar semua. Masya Allah …! Itu sekedar kisah sandal butut yang sangat disayang sang pemilik dan terpaksa berpindah tangan.

Tapi …, pernahkah kita bersedih hati dan menangis saat kehilangan waktu? Pernahkah kita berpikir saat kongkow-kongkow, ngobrol tanpa tujuan yang bermanfaat, melamun, nonton tayangan televisi tanpa peduli gadhul bashar (menjaga pandangan), atau melakukan berbagai keisengan, sebenarnya kita telah membiarkan sang pencuri waktu beraksi? Jika gelengan kepala mewakili jawaban kita, tentunya keadaan ini sangat patut kita sayangkan. Bisa jadi kita masuk kategori PGD –pasien gawat darurat– yang perlu terapi ruhiyah secepatnya.

Sejak zamannya Mbah Utsman –bahkan jauh-jauh sebelum zaman itu–, semua orang juga sudah tahu –kecuali yang belum tahu– bahwa tidak ada yang namanya waktu itu dapat diulang. Sekalipun ada yang namanya ulang tahun, atau ulang bulan, atau ulang hari, atau apalah …. Sekalipun ada siaran ulang sepak bola Liga Inggris atau siaran ulang lawakan konyol atau siaran ulang idol-idolan atau apalah …. Toh fakta di depan mata menunjukkan tidak adanya pengulangan waktu sepersekian juta detik sekalipun! Meskipun merangkak pelan, waktu terus saja menggilas batang usia kita. Merapuhkan kokohnya jasad kita. Mengerogoti daya ingat kita. Mengantar kita sampai di titik fana …. Kematian!

Ya, meskipun setiap hari bertemu dengan hangatnya sinar matahari pagi, kita tetap dihadapkan pada kenyataan bahwa pagi ini tidak sama dengan pagi kemarin, tidak juga sama dengan pagi besok. Pagi ini adalah pagi ini, tidak ada arti lain. Sepakat?!

Semoga kita masih bisa menjaga harta yang tersisa dengan sebaik-baiknya sebelum kita sampai di titik fana. Sebelum cacing-cacing tanah berpesta menikmati jasad kita yang rapuh. Semoga ….

Sendiri …

0142Banyak yang sudah berlalu. Setiap jiwa itu pasti dipanggil menghadap kepada Yang Maha Memiliki. Dan tiada apa pun yang dikirim bersama ke liang lahad, melainkan bekal amal yang telah disiapkan di atas dunia fana ini.

Tiada yang dibawa pergi. Tiada harta benda melainkan helaian kain putih bersih. Tiada kediaman sehebat istana melainkan tanah berlumpur jua. Tiada kendaraan mewah melainkan keranda kayu semata-mata. Tiada apa makna pada kebanggaan sebuah D U N I A.

Di ruang sempit, gelap, pekat …, hanya berteman ulat dan cacing. Mari siapkan lentera untuk menerangi gelapnya kubur. Selagi nafas masih berhembus, selagi sesal masih berarti.

Keping Masa Lalu

Keping-keping masa lalu adalah kumpulan masa yang tidak akan pernah terulang. Meski mentari terbit dan tenggelam di tempat yang sama, hari yang telah berlalu tetap saja tidak sama dengan hari ini ataupun hari esok. Apa yang sudah berlalu akan tersusun menjadi kenangan yang tidak bisa diraih kembali. Hanya saja, ternyata tidak begitu saja masa lalu itu berlalu. Getarannya bisa saja terus terasa hingga hari ini, mungkin juga di masa nanti.

Masa lalu, serupa apa pun itu, ada kalanya perlu ditengok. Perlu kita buka keping-kepingnya sementara waktu, untuk disusun kembali. Bukan untuk menguak luka lama atau menenggelamkan diri dalam kenangan, tapi untuk diambil hikmahnya demi pijakan langkah-langkah ke depan. Agar tak lagi terperosok pada jalan yang sama. Agar untaian semangat yang dulu pernah ada, dapat kembali dikobarkan ketika kelesuan menyapa. Agar badai yang dulu pernah dilalui, menjadi penyemangat untuk menghalau angin yang berhembus hari ini. Agar niat tulus yang dulu diikrarkan, dapat kembali diluruskan ketika mulai terasa berbelok arah. Agar air mata dan tawa yang dulu pernah ada, menyadarkan pada kita bahwa hidup itu penuh warna dan liku. Agar jiwa semakin matang, agar keteguhan semakin kuat, agar kesabaran semakin mengakar. Agar hidup menjadi lebih baik.

Semakin Dekat Saja

Semakin dekat saja … Sesuatu yang aku larinya …duhai jiwa, apa yang sudah kau persiapkan untuk perjalanan panjangmu. Lentera apa yang sudah kau siapkan untuk menemani gelap kuburmu. Teman seperti apa yang sudah engkau ajak untuk menemani kesunyian kuburmu. Selagi jantung masih berdetak, selagi nafas masih berhembus, selagi masih ada kesempatan …. semoga aku dan dirimu tidak termasuk orang-orang yang menyesal pada saat penyesalan itu tiada berguna lagi. lastbreath.com.

Meski Tak Sehebat Dulu

Batang usiaku kian merapuh, dilibas waktu yang terus merangak. Baru kusadari, betapa lemah sudah raga ini. Raga yang dulu dengan angkuhnya melintasi pekatnya malam, menembus lebatnya belantara, mendaki cadas terjal … kini mulai redup. Begitu mudahnya raga ini tumbang kini, tak berdaya oleh kuman yang tak terlihat oleh mata.

Duhai jiwa, hendaknya ini menjadi renunganmu, bahwa tidak ada yang abadi. Raga tempatmu bernaung kan sampai pada saatnya mencapai titik akhir. Kan pada saatnya menjadi santapan cacing tanah dan rayap. Duhai jiwa, menangislah sekarang, selagi raga masih kau peluk, selagi air mata itu mempunyai makna ….

Sombong angkuhmu, remukkan itu. Ingatlah ketika suatu masa nanti gelap menyergapmu dalam kesendirian. Tak ada temanmu kecuali apa kebaikan yang telah engkau tinggalkan sebelum berpisah dari ragamu. Bangkitlah! Meski ragamu mulai meletih, tetap kuatkan azzammu. Waktu-waktumu yang masih tersisa, jangan biarkan berlalu begitu saja. Paksalah ragamu yang melemah untuk menikmati dinginnya sepertiga malam dalam munajat kepada-Nya. Jangan cengeng hanya karena satu per satu penyakit hinggap di ragamu, itu bukan masalah yang perlu terlalu engkau risaukan. Hendaklah engkau lebih merisaukan bekal jiwamu untuk menempuhi jalan panjang yang pasti engkau lalui. Berletih-letihlah sekarang supaya kelak engkau menuai kebahagiaan. Nikmatilah pahitnya perjuangan agar kelak kau dapati manisnya menatap wajah-Nya.