Saudariku, Jangan Engkau Umbar Auratmu …

Saudariku, di manakah rasa malu yang sebenarnya engkau miliki? Apakah sedang engkau gadaikan hingga dengan bangganya engkau memamerkan auratmu? Apa yang engkau inginkan? Pujian? Decak kagum para lelaki yang memandangmu dengan nafsu? Colekan nakal lelaki hidung belang? Banyak lelaki yang memuja kemolekanmu? Masya Allah …, sadarlah wahai saudariku!! Jangan biarkan tubuhmu jadi pemuas nafsu mata-mata jalang. Engkau terlalu mulia untuk melakukan itu.

Saudariku, tidak sadarkah engkau? Semua yang ada di dirimu adalah pesona. Senyummu, lirikanmu, moleknya tubuhmu, gerai rambutmu, semuanya adalah untaian keindahan.  Engkau adalah permata indah yang teramat sangat berharga. Terlalu berharga hingga tak pantas rasanya jika diumbar …. Jagalah dirimu saudariku, agar tidak tercuri, agar pesonanya tak redup oleh gerusan zaman. Agar pancaran keindahannya tetap abadi hingga menjadi pelita di masa kegelapan nanti ….

Saudariku, agar engkau tahu, aku marah, sedih, kecewa melihat engkau mengumbar auratmu. Jangan diteruskan lagi wahai saudariku …. Cukuplah sampai di sini saja, dan mulailah lembar kehidupan baru dengan keanggunanmu, keanggunan seorang muslimah sejati. Renungkanlah untaian pesan berikut ini, yang kurasa memang ditujukan untukmu.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu BERUNTUNG.”

Advertisements

Nasihat Pernikahan

Berikut ini nasihat kami bagi Anda yang hendak menikah. Nasihat ini sebagai usaha menjalankan fungsi tanashuh, saling menasehati dalam kebaikan. Nasihat ini kami rasa penting untuk diperhatikan karena di tengah masyarakat telah terjadi banyak penyimpangan yang membuat hati kami begitu miris dan sedih.

Pertama, tahanlah diri untuk tidak berpacaran dengan calon pasangan Anda sebelum terjadi akad nikah. Akad nikah adalah kunci pembuka yang membuat halal hubungan Anda. Bersabarlah …! Meskipun lingkungan Anda tidak mencela Anda berpacaran, meskipun pacaran sudah menjadi hal yang lumrah di tengah masyakarat …, tundalah dulu hingga stempel halal itu ada. Jika sudah terjadi akad nikah, silahkan berpacaran 24 jam, Anda dan pasangan justru mendapat pahala.

Ingatlah baik-baik pesan seseorang yang namanya telah Anda ikrarkan dalam syahadat Anda; teladan terbaik yang telah berjuang demi kemuliaan agama ini; dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpesan, “Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita, kecuali si wanita itu bersama mahramnya.” (HR Bukhari No. 1862 dan Muslim No. 1341)

Meskipun Anda dan calon pasangan telah bertunangan, tetaplah memperhatikan untaian pesan nubuwah tadi. Karena bagaimana pun juga, khitbah belum menghalalkan hubungan di antara kedua calon yang akan menikah.

Termasuk berduaan adalah saling berkirim sms, telepon, chatting, dan sejenisnya. Jadi, berduaan tidak harus selalu bermakna ‘berada dalam satu tempat’.

Kedua, saat melakukan khitbah, tidak perlu mengadakan tukar cincin. Perhatikan pesan yang disampaikan Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Emas dan sutra dihalalkan untuk wanita dari umatku dan diharamkan atas laki-lakinya.” (HR At Tirmidzi No. 1720)

Meskipun cincin itu bukan berupa emas …, tetap tinggalkan tradisi yang terlanjur digandrungi oleh kebanyakan masyarakat muslim ini. Mengapa? Amalan ini tidak ada landasan syari’atnya dan hanya meniru tradisi kaum Nasrani.

Ketiga, semua hari adalah baik untuk melaksanakan pernikahan. Jadi, tidak usah menggunakan perhitungan rumit untuk mengetahui hari baik dan hari sial pelaksanaan pernikahan. Sebagian masyakarat muslim masih mempraktekkan penentuan hari pernikahan berdasarkan hitung-hitungan hari lahir kedua calon mempelai …. Ini aneh …, janganlah Anda ikut-ikutan melestarikannya. Islam tidak pernah mensyaratkan hari dan tanggal tertentu untuk melangsungkan pernikahan.

Keempat, hindari undangan-undangan mubadzir. Tidak ada salahnya Anda mencetak undangan untuk mengundang tamu-tamu Anda. Akan tetapi alangkah bijaksananya jika Anda memperhatikan kaidah kemanfaatan dan fungsi dari undangan tersebut.

Betapa sekarang ini banyak dijumpai undangan yang dicetak dengan kertas mahal dan hanya berfungsi sebagai “undangan” sehingga setelah dibaca oleh si penerima, akhirnya hilang entah ke mana. Padahal biaya cetaknya tidaklah murah.

Kami nasehatkan supaya Anda tidak berlaku boros dalam masalah ini. Jikalau Anda berlebih dalam keuangan dan ingin memberikan undangan yang berkesan, tidak ada salahnya undangan itu bisa berguna setelah dibaca. Anda bisa mencetaknya berupa kipas, kalender, tempat pulpen, dan sebagainya. Atau jika Anda memang mempunyai dana terbatas, cukuplah Anda membuat undangan sesuai kantong Anda, jangan terlalu memaksakan diri. Bahkan undangan melalui sms atau selembar kertas HVS pun bukanlah hal tercela. Ingatlah bahwa masih banyak kebutuhan yang lebih penting untuk Anda perhatikan, karenanya jangan bersikap boros. Allah berfirman,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Terjemah QS Al A’raf [7]: 31)

Allah berfirman,

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Terjemah QS Al Israa [17]: 27)

Kelima, perhatikan masalah ikhtilat dalam walimah Anda. Betapa banyak mereka yang mengadakan walimah tanpa mengindahkan masalah ini. Laki-laki dan wanita saling berbaur, berdesakan, berjabat tangan …, seakan hal yang wajar dan tidak berarti apa-apa. Padahal Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan masalah ini. Allah berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya ….” (Terjemah QS An Nuur [24]: 30-31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, ditusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Ath Thabrani)

Keenam, tetaplah menjaga shalat lima waktu. Walimah yang Anda selenggarakan; berbagai riasan dan pakaian pengantin, kesibukan melayani para tamu …,  jangan sampai menjadi sebab Anda mengabaikan pelaksanaan shalat. Pahamilah bahwa Anda dan pasangan layak untuk mengutamakan bertamu kepada Allah dengan rukuk dan sujud. Allah berfirman,

 “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Terjemah QS Al Ankabuut [29]: 45)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Untuk menghindari terjadinya pengabaian pelaksanaan shalat baik oleh kedua mempelai, para kerabat dan tetangga yang terlibat, serta para tamu undangan, hendaklah walimah dilangsungkan pada waktu yang dibatasi dan jauh dari waktu pelaksanaan shalat.

Ketujuh, hindari pesta berdiri (standing party). Sekarang ini standing party seakan menjadi trend di kalangan umat muslim, padahal budaya tersebut jauh dari syariat Islam. Islam tidak mengajarkan pemeluknya untuk makan dan minum dengan berdiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian minum sambil berdiri.” (HR Muslim). Jika minum saja dianjurkan untuk tidak sambil berdiri, terlebih lagi dengan makan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila minum hendaklah dengan tangan kanan juga, karena sesungguhnya syetan itu makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR Muslim)

Kedelapan, jangan mencabut alis dan menyambung rambut. Nasehat ini terutama ditujukan untuk mempelai wanita dan para tamu undangan wanita. Betapa sekarang ini kita dapati hal yang demikian sudah dilakukan oleh banyak wanita dan seakan hal yang wajar. Padahal Islam melarang hal tersebut dan termasuk merubah ciptaan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang mentato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya, yang mencukur alis dan yang minta dicukur, dan wanita yang merenggangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari)

Syaikh Albani berkata, “Apa yang dilakukan sebagian wanita dengan mencabut alisnya sehingga menjadi seperti bulan sabit atau busur panah yang mereka lakukan untuk mempercantik diri menurut dugaan mereka, maka hal tersebut termasuk perbuatan yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Begitu juga dengan perbuatan menyambung rambut, di mana Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa ada seorang gadis Anshar yang telah menikah, kemudian ia sakit sehingga rambutnya rontok. Lalu ia ingin menyambung rambutnya, maka mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang minta disambung rambutnya.” (HR Bukhari, An Nasa’i, dan Ahmad)

Kesembilan, cemburulah terhadap mempelai wanita yang dirias indah dan jadi tontonan para tamu laki-laki. Anda seorang suami, semestinya menaruh rasa cemburu kepada istri Anda sehingga menjaganya dari pandangan laki-laki yang tidak berhak. Tidak semestinya pengantin wanita didandani menor dan dipajang di ruang utama tempat pesta walimah dilangsungkan sehingga setiap mata tertuju pada kecantikannya. Kecantikan istri Anda sudah semestinya cukup hanya untuk Anda. Jagalah dia dari laki-laki jahat.

Demikian pula Anda sebagai istri, janganlah berbangga dengan riasan wajah dan keindahan gaun yang Anda kenakan jika harus dipertontonkan kepada khalayak. Cukuplah keindahan Anda dipersembahkan khusus hanya untuk suami Anda tercinta. Jangan biarkan mata-mata liar memelototi dan mengagumi keindahan Anda. Tutuplah keindahan diri Anda dengan hijab syar’i. Allah berfirman,

“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemah QS Al Ahzab [33]: 59)

Demikian sedikit nasihat pernikahan ini, semoga menjadi rambu-rambu yang diperhatikan demi tercapainya keridhaan Allah terhadap rumah tangga yang akan dibina.

Bagaimana kita bisa memimpikan rumah tangga sakinah kalau baru memasuki gerbangnya saja kita sudah melakukan kemungkaran? Pernikahan barakah tentunya dimulai dari sejak awal pemilihan calon hingga pelaksanaan akad nikah dan walimah yang memperhatikan kaidah-kaidah syariat.

Untukmu yang Masih Bergelimang Maksiat

0636Saudaraku …, apa yang engkau cari dalam kehidupan ini? Kebahagiaan dan kedamaian hidupkah? Apakah engkau menemukannya dalam tarian dan lenggak-lenggokmu? Apakah engkau menemukannya dalam hiruk pikuk dunia malam yang gemerlap dan bising dengan nyanyian setan? Benarkah engkau menemukannya dalam setiap tegukan khamr dan isapan rokokmu? Benarkah engkau menemukan kepuasan setelah menyakiti dan menyiksa jiwa lain dengan sepak terjangmu? Ambillah jeda, wahai saudaraku. Tanyakan semua itu pada hati kecilmu dan berikan jawaban yang jujur pada dirimu sendiri.

Saudaraku …, percayalah, kebahagiaan tidaklah ada di sana. Kebahagiaan tidak akan pernah engkau temukan di tempat-tempat yang engkau datangi itu. Mungkin engkau belum menyadari, betapa kebahagiaan itu begitu dekat denganmu, bahkan kebahagiaan itu bersemayam di dalam hatimu. Mungkin engkau bertanya, “Benarkah? Kalau kebahagiaan itu bersemayam dalam hatiku, mengapa sama sekali aku tidak merasakan kehadirannya?” Yah …, mungkin karena hatimu masih tertutup, saudaraku. Tertutup oleh kelamnya maksiat dan kedurhakaan. Karenanya, engkau tidak dapat menyingkap tabir untuk menemukan kebahagiaan dalam hatimu. Kebahagiaan yang sebenarnya hadir dalam hati yang senantiasa tunduk dan takut pada-Nya. Hati yang selalu menyadari akan pengawasan-Nya di setiap gerak langkah hidupnya.

Engkau memberikan tabir kelam pada hatimu sendiri. Engkau menambahkan noda demi noda pengkhiatan dalam hatimu sehingga tak lagi kau lihat cahaya-Nya yang menentramkan. Bagaimana engkau bisa melakukan semua itu, saudaraku? Allah-lah yang memberimu segala rupa kenikmatan hidup, tapi apa balasanmu? Engkau membalas segala kebaikan-Nya dengan pengkhianatan.

Tangan yang begitu mulus Dia hadiahkan untukmu, tapi justru engkau gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Rambut indah Dia berikan padamu agar engkau bisa berhias untuk suamimu, tapi engkau malah memamerkannya kepada semua lelaki, padahal Dia menyuruhmu menjaga aurat. Dia melengkapimu dengan kedua kaki yang kuat dan indah supaya kuat berdiri dalam shalatmu, tapi justru kaki itu engkau gunakan untuk berlari menjauh dari perintah-Nya. Kedua mata indah itu Dia titipkan padamu agar bisa menikmati barisan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tapi mengapa engkau justru menggunakannya untuk melihat gambar-gambar porno?

Saudaraku …, sudah merasa hebatkah dirimu sehingga tidak ada apa pun yang engkau takuti? Benarkah? Benarkah tubuhmu yang kekar dan kuat itu bisa mencegah kematian yang datangnya tiba-tiba? Adakah engkau punya obat penangkal yang bisa membuatmu terbebas dari kematian? Ataukah engkau mempunyai tempat untuk bersembunyi darinya? Padahal Allah berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS Al-Anbiya [21]: 35). Di ayat lain, Allah juga berfirman, “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang ….” (QS Al-Munafiqun [63]: 11). Kita akan dipaksa untuk meninggalkan kehidupan ini, saudaraku, camkan itu!

Wahai orang yang ridha untuk rugi dan sengsara, sadarilah bahwa urusanmu membahayakanmu. Mengapa engkau terus saja dalam kelalaian sedangkan orang-orang di sekitarmu telah pergi selamanya? Apakah engkau berpikir, kematian yang menyergap jiwa seseorang itu akhir dari kisahnya? Sekali-kali tidak, wahai orang yang diperintahkan beramal! Akan datang masa setelah itu di mana setiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban. Mengapa engkau melupakan hal itu, wahai orang yang seluruh perbuatannya dicatat?

Dapatkah engkau memastikan tempat tinggalmu di alam keabadian kelak? Adakah yang menjaminmu bakal mendapat kenikmatan abadi sehingga dengan beraninya engkau habiskan umur untuk berfoya-foya? Duhai jiwa yang terlena dengan dunia yang fana, andai engkau tahu kecelakaan yang menimpa para pelaku maksiat …. Mereka dibangkitkan dari kubur dengan keadaan linglung. Menghadap Rabb-nya dengan tangan terbelenggu. Menjerit-jerit dan terguncang. Digiring kepada kobaran api yang menyala-nyala. Tak ada minuman sementara kerongkongan begitu mencekik. Tak ada makanan sementara perut terasa teriris.

Duhai jiwa yang diseru untuk mendapat keselamatan tapi malah berpaling! Mari lunakkan hati. Selagi ruh masih melekat di jasad, selagi buku catatan amal masih terbuka, masih ada kesempatan untuk berbenah. Bulatkan tekad dan lakukan satu langkah: taubat! Percayalah, Allah senantiasa membuka pintu maaf-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Bijaksana.’” (QS Az-Zumar [39]: 53)

Karenanya, mari kita kembali ke jalan yang sudah Dia berikan kepada kita, jalan yang dapat menuntun kita pada kebahagiaan sejati dan kelezatan menatap wajah-Nya. Mari bersegera, saudaraku, karena kita tidak pernah tahu kapan nikmat hidup ini Dia cabut dari kita. Jangan sampai kita menyesal pada saat penyesalan itu tidak berguna sama sekali. Ingatlah firman Allah, “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS Az-Zumar [39]: 54-55)

Wahai jiwa yang telah jauh tersesat! Apa pun kemaksiatan yang telah engkau lakukan, jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Tengadahkan tanganmu dan mohon ampunlah kepada-Nya, bertaubatlah dengan sebenar-benarnya taubat. Maka engkau akan menjumpai betapa Dia Maha Penerima Taubat, Maha Pengampun.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat semurni-murninya ….” (QS At-Tahrim [66]: 8)

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ma’idah [5]: 74)

Semoga Allah menganugrahkan kemuliaan kepada kita. Melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran dan menerangi hati kita dengan cahaya keimanan. Semoga kita senantiasa istiqamah dalam menempuhi jalan kebenaran hingga datang ketetapan yang telah dijanjikan untuk kita (kematian).

Perbedaan Kita

Kawan, apa artinya perbedaan yang ada di antara kita? Apakah itu lebih berarti dibandingkan sekian persamaan yang kita miliki? Kita sama merasakan panas ketika terik matahari menyengat kulit kita. Kita sama kedinginan ketika guyuran hujan memeluk kita. Kita sama-sama punya tawa dan airmata. Kita sama-sama membutuhkan udara untuk bernapas ….

Lalu mengapa seujung kuku perbedaan yang bertahta di atas kesombongan dan keangkuhan diri harus dielu-elukan sedemikian rupa? Apakah kita punya cukup waktu untuk mengurai itu semua? Bukankah waktu kita terbatas? Sangat terbatas …. Haruskah waktu yang sangat terbatas itu kita habiskan untuk mengais-ngais perbedaan? Untuk mengangkat aib-aib saudara kita ke permukaan? Untuk mendapatkan pengakuan bahwa diri kitalah yang paling benar sedang yang lain terlaknat? Ogh … sungguh kebinasan jika rasa seperti itu singgah di hati kita.

Kawan, bukankah kita sama-sama muslim yang mencoba mencari jalan kebenaran? Kalau ada yang melenceng dari jalan yang semestinya, kenapa aibnya harus diumbar? Dengan alasan apa hal itu kita lakukan? Dengan dalih menyelamatkan dan menjauhkan orang lain dari keburukan dan ketergelincirannya? Begitukah para pendahulu kita mencontohkan? Bukankah Islam yang indah telah mengajarkan kepada kita bagaimana adab meluruskan kesalahan orang lain?

Kawan, kenapa harus berpayah-payah berkutat pada secuil perbedaan yang tidak begitu berarti? Waktu terus melaju kawan, jangan biarkan berlalu untuk hal yang tidak semestinya. Jadikan perbedaan di antara kita sebagai jalan untuk saling mengisi dan melengkapi. Mari kawan, sambut uluran tanganku. Mari berderap bersama di jalan ini.

Make-up Muslimah

Sebagai muslimah, kita tentu saja membutuhkan make-up untuk perawatan diri. Make-up yang akan membuat kita tampil sebagai sosok muslimah yang anggun.  Make-up yang insyaAllah tidak memberikan efek samping, justru memberikan dampak positif luarrrr biasa. Agar memberikan hasil yang optimal, make-up ini saya anjurkan untuk digunakan setiap hari sepanjang waktu.

@  Poleskan lipstik kejujuran pada bibir Anda agar hidup Anda senantiasa tenang.

@  Mandilah setiap hari menggunakan sabun istighfar agar kuman-kuman khilaf dan kesalahan Anda luruh.

@  Gunakan masker rasa malu di wajah Anda agar Anda tidak berbuat sekehendak hati.

@  Pasanglah ghaddul bashar pada mata Anda, agar hati Anda tetap terjaga jernih dan bening.

@  Rawatlah rambut Anda dengan jilbab Islami agar terbebas dari ketombe pandangan laki-laki yang mengundang fitnah.

@  Balurlah seluruh tubuh Anda dengan busana muslimah yang syar’i agar kulitnya tak tersentuh pandangan liar laki-laki nakal.

@  Jadikan wudhu sebagai lulur rutin Anda agar syetan enggan bersahabat dengan Anda.

@  Gunakan parfum yang terbuat dari bahan-bahan akhlak Islami agar semakin harum keimanan Anda dan menjadi magnet bagi orang-orang di sekitar Anda.

@  Hiasi jemari Anda dengan cincin tawadhu agar Anda tidak segan mengakui kelemahan diri dan kelebihan orang lain.

@  Lingkarkan kalung ukhuwah di leher Anda agar kedamaian dapat bersemi senantiasa.

Semoga tips di atas bermanfaat untuk teman-teman.

Sedikitlah dalam Bicara

Sedikitlah dalam bicara,

cukup yang perlu saja, usah mengobral kata,

agar lidah tak lepas kendali,

agar tak banyak hati yang terluka karena terjangannya,

agar tak ada celah bagi syetan untuk menggelincirkan jiwa.

agar hati tak lena dalam hal sia-sia.

 

Sedikitlah dalam bicara,

cukup yang bermanfaat saja,

hindari umpat dan cela,

agar Allah tak murka karenanya.

Pesan untuk Saudariku

Saudariku, tak terasa langkah kakimu terus menapaki jalan-jalan kehidupan hingga sampai di fase ini. Fase di mana banyak harapan yang telah teraih, pun masih ada impian yang belum terwujud. Rangkailah segala syukur pada-Nya, Sang Pemilik kehidupan. Apapun yang ada padamu, itu adalah karena rahmat dan kasih sayang-Nya. Segala apa peristiwa yang engkau alami adalah untuk menempamu menjadi jiwa yang kuat dan tegar, agar tidak tererosi oleh putaran zaman yang terus bergulir.

Saudariku, hari ini adalah hari di mana engkau tidak akan lagi menjumpainya di masa yang akan datang. Mungkin ada segetir rasa terselip di relung hati tentang sebuah asa yang belum teraih. Ah, usah menjadikan hatimu galau. Allah selalu punya rencana terbaik untukmu daripada apa yang sudah engkau rencanakan. Ajaklah diri untuk menjadi hamba yang sabar dan pandai bersyukur. Ingatlah bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah tahap kehidupan yang tidak kekal. Jangan sampai persinggahan sementara ini membuatmu berduka hanya karena keinginan yang belum teraih. Lihatlah dirimu. Masih banyak hal yang patut disyukuri daripada sekedar termenung dalam asa yang belum dapat terengkuh. Tersenyumlah saudariku, usah larut dalam duka lara. Sesekali tidak mengapa engkau bawa isak tangis menyertai langkahmu, tapi jangan mengeluh. Jangan pernah putus ada dari cinta-Nya. Cobalah engkau lihat jalan-jalan yang sudah engkau tapaki, begitu terjal dan berliku. Engkau mampu melaluinya, bukan? Engkau tidak menyerah, bukan? Tetaplah tegar, karena jalan-jalan ke depan bisa jadi dan sangat mungkin lebih sulit.

Saudariku, tidak ada yang perlu terlalu disedihkan selain tererosinya iman dari hati. Sudah begitu banyak langkah yang membelok dari niatan awal. Sudah banyak niatan lillah yang tercampuri oleh syahwat dunia. Sebelum langkah semakin jauh, sadarlah …. Benahi diri dan perbaiki niat, semoga demi Allah semata. Agar tak sia-sia payah dan peluh.

Saudariku, menangislah atas tumpukan dosa dan pengkhianatan kepada-Nya. Mohon ampun …, akui kefakiran diri di hadapan-Nya. Istighfar saudariku, istighfar …. Batang usia kian merapuh. Jatah waktu di kehidupan fana ini semakin berkurang. Siapkanlah bekal sedari sekarang, agar tak menyesal  kelak …. Jangan sampai terpedaya dengan moleknya dunia. Hati-hatilah membawa hati. Jagalah …, agar senantiasa mengingat-Nya. Jangan biarkan lintasan-lintasan dunia mengotorinya. Bersihkan hati senantiasa, agar tak bertumpuk noda padanya. Kita tidak pernah tahu sampai kapan jatah waktu kita, di sini ….

Saudariku, semoga langkah kaki senantiasa istiqamah di jalan-Nya. Semoga iman tetap terjaga sampai akhir hayat. Semoga Allah, dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, menyediakan tempat untukmu di syurga-Nya. Berjuanglah untuk itu, saudariku, karena syurga-Nya adalah kediaman yang teramat sangat indah dan menakjubkan, diperebutkan banyak orang. Jadilah salah satu pemenangnya.

Saudariku …, engkau adalah aku ….