Indahnya dalam Naungan Syukur Nikmat

Berikut ini penggalan kehidupan rumah tanggaku, kubagikan kepada pembaca agar dapat diambil manfaatnya. Semoga Allah melindungiku dari riak-riak kesombongan.

Aku menjalani pernikahan yang membahagiakan dan bertabur cinta. Suamiku seorang yang shalih dan alhamdulillah ada dua mujahid kecil yang makin menyemarakkan rumah tangga kami. Menginjak tahun keempat usia pernikahan kami, suami memboyongku ke kampung halamannya demi birrul walidain mengurus orang tua suami (mertuaku).
Saat pindah ke kampung halaman, suamiku otomatis melepas semua pekerjaannya. Di kampung, banyak usaha yang dilakukan suami agar kembali mendapatkan pekerjaan. Setelah gagal melamar jadi guru di sebuah SMA favorit, suami memutuskan berbisnis. Ternyata bisnis tidaklah mudah. Kegagalan demi kegagalan dialami suami hingga terlilit hutang. Sebagai istri, aku pun berusaha mendukung, menyemangati, dan memotivasinya.

Hari demi hari berlalu …, kondisi ekonomi keluarga kami belum juga bangkit, malah semakin terpuruk. Memasuki usia pernikahan di tahun kelima, Allah memberi kami amanah berupa kehamilanku yang ketiga. Aku pun berusaha husnudzan pada Allah. Aku optimis bahwa setiap jiwa pasti sudah Allah tetapkan rejekinya. Suamiku semakin gigih mencari nafkah untuk aku dan anak-anak hingga kulitnya menghitam terbakar matahari. Aku terharu dengan pengorbanan dan tanggung jawabnya yang begitu besar. Dan kurasakan hubungan cinta kami semakin menguat.
Usia kehamilanku semakin bertambah, namun keadaan ekonomi kami makin memburuk. Dan suatu hari, Allah memberi petunjuk melalui sebuah buku yang kami baca tentang keajaiban rejeki. Kami pun berusaha mempraktekkannya, selalu mengeluarkan shadaqah setiap ada pemasukan. Hingga ketika uang tabung untuk persalinan jauh dari cukup padahal kami sangat membutuhkan pertolongan Allah, maka semua tabungan tersebut kami shadaqah kan kepada tetangga yang miskin, dengan berharap kepada Allah agar menolong kami, mencukupi kebutuhan kami, dan mempermudah proses persalinanku.

Hari perkiraan lahir sudah di depan mata sementara kami tidak memiliki uang kecuali sekedar untuk membeli makan. Suamiku yang pemberani bertekad untuk menangani sendiri persalinanku. Saat itu, tiada ada lagi yang kami harapkan pertolongannya melainkan Allah, Dzat yang mengabulkan doa hamba-Nya. Tibalah saat persalinanku di mana aku mulai merasakan sakit yang makin bertambah. Entahlah, proses persalinanku kali ini berbeda dengan dua persalinan sebelumnya. Sakit yang kurasakan makin tak tertahankan, namun belum ada sedikitpun cairan atau lendir yang keluar. Kecemasan mulai menghinggapi hingga kami putuskan untuk memanggil bidan ke rumah. Waktu itu kami tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, asal anak kami lahir selamat.

Akhirnya suamiku menelpon seorang bidan …, tapi takdir Allah yang indah berkata lain. Begitu suamiku menutup telepon, tiba-tiba ketubanku pecah. Aku pun sudah tidak kuat dan mulai mengejan. Akhirnya anakku bi idznillah lahir di tangan abinya sendiri (suamiku). Akan tetapi, anakku tidak menangis, lemas, kotor, tubuhnya membiru, dan detak jantungnya sangat lemah. Aku dan suami berpikiran sama, jangan-jangan anak kami tidak bertahan lama …. Suamiku berkata, “Ummi, ayo berdoa, berdoa ….“

Pada saat yang menegangkan itu, bidan tiba di rumah kami bersama dua mahasiswa yang sedang magang. Dengan cekatan mereka memberi pertolongan kepada anakku dan alhamdulillah selamat. Meskipun saat itu kami tidak bisa langsung membayar biaya persalinan, alhamdulillah dalam waktu sebulan kami bisa melunasinya karena Allah memberikan rejeki yang tidak terduga dan tak disangka-sangka.

Gelombang persoalan masih saja menerpa bahtera rumah tangga kami. Bisnis yang dijalankan suamiku tidak mengalami kemajuan. Setelah mempertimbangkan banyak hal, suami kembali mencari kerja sebagai pengajar. Tak terhitung lamaran yang dikirimkan ke berbagai sekolah dan universitas, namun tak kunjung memberikan hasil. Padahal kebutuhan hidup semakin bertambah dengan kehadiran anak ketiga kami.

Hingga pada suatu hari, suamiku mendapat pekerjaan mengajar di sebuah SD dan SMK milik suatu yayasan. Aku merasa terharu melihat suamiku menggunakan seragam lalu berangkat ke sekolah. Ada perasaan bahagia ketika menunggunya pulang. Bulan pertama mengajar pun dilalui dan tiba saatnya gajian. Suamiku menyodorkan amplop berisi gaji perdananya padaku sambil tersenyum, “Syukurilah apa yang Allah berikan niscaya Allah akan menambahnya.” Dengan harap cemas kubuka amplop itu. Aku sangat tercengang setelah mengetahui isinya, ternyata untuk beli beras satu bulan saja tidak cukup. Tapi di sinilah perjuangan rumah tanggaku, susah senang harus dijalani bersama. Aku terus berusaha mendampingi suamiku dan menyemangatinya.

Setelah beberapa bulan mengajar di SD dan SMK tersebut, suamiku mendapat panggilan wawancara dari sebuah universitas. Sepulang dari wawancara, suamiku terlihat bahagia. Alhamdulillah, akhirnya suamiku diterima mengajar di universitas.

Awal-awal menjadi dosen, suamiku terlihat letih karena belum terbiasa mengendarai motor jarak jauh. Perjalanan dari rumah ke kampus memang lumayan, hampir satu jam. Aku berusaha menyemangatinya dengan menjadi istri yang menyenangkan untuknya. Ketika suami sudah berangkat kerja, aku segera menyelesaikan pekerjaan rumah. Sebelum suami sampai di rumah, anak-anak sudah kumandikan. Aku juga sudah mandi dan wangi. Rumah pun rapi dan bersih. Detik-detik menunggu kepulangannya adalah hal yang membahagiakan. Saat suami datang, aku dan anak-anak menyambutnya di pintu rumah. Kulihat binar bahagia di wajahnya dan keletihan yang memudar.
Jujur saja, gaji suamiku mengajar di kampus juga tidak besar. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, kami merasa saat ini sudah sangat cukup. Aku baru menyadari, ketika seorang istri berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya, maka suami pun semakin memperhatikan dan menyayangi istrinya. Kebahagiaan rumah tanggaku semakin bertambah ketika suami mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di universitas ternama. Alhamdulillah, kenikmatan yang tidak terkira.

Saat ini usia pernikahan kami memasuki tahun kedelapan. Kurasakan butiran cinta kami makin mengkristal. Aku jadi sangat memahami, bahwa landasan pernikahan yang paling utama adalah agama, karena itu adalah kunci kebahagiaan. Aku bersyukur mempunyai suami yang shalih, laki-laki yang tak bosan menasehati, mengarahkan, dan membimbingku. Dia menguatkanku di saat lemah sehingga ketika ujian datang, kami bisa melaluinya bersama. Semoga aku senantiasa bisa menjadi istri shalihah penyejuk hati dan kelak kami bisa berkumpul di surga-NYA, aamiin ….

(taken from kisahnyata)

Advertisements

Pesona Akhlak Suami Tercinta

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Akan kuceritakan kisah nyata dalam rumah tanggaku, di mana aku memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah agar hatiku tidak dihinggapi riya’, sum’ah, dan ghurur karenanya. Semoga pembaca bisa mengambil ibrah dari kisahku.

Sekitar tahun 2004, aku jatuh hati pada seorang ikhwan (laki-laki) murni karena agamanya. Dia memiliki kelebihan berupa ilmu dan ketaatan dalam beragama serta kecerdasaan yang membuatku kagum. Dia tidak lain adalah teman dekat kakakku: sama-sama kuliah di satu jurusan, aktivis dakwah kampus, dan teman ngaji. Karenanya, aku langsung percaya ketika kakakku menilai ikhwan ini baik.

Setelah mempertimbangkan segala hal, dengan perasaan setengah minder, kuberanikan diri untuk menawarkan diri kepadanya melalui perantara kakakku. Saat itu kakakku berkata, “Apakah kamu siap menikah dengannya? Dia seorang yang tidak kaya, penghasilannya (saat itu) hanya sekitar sepuluh ribu/hari.“ Tapi aku sudah terlanjur mabuk asmara. Dengan mantap kukatakan aku siap menjadi istrinya. Alhamdulillah akhirnya cita-citaku terkabul, aku menikah dengannya pada tahun 2006 di penghujung usiaku yang ke 21 tahun.

Setelah pernikahan itu, baru kutahu ternyata selama ini suamiku pun jatuh hati padaku tetapi disembunyikan. Kebahagiaanku semakin bertambah dan bunga cinta di hatiku kian merekah. Hari demi hari kulalui dengan taburan cinta tanpa masalah yang berarti. Hingga setelah empat bulan usia pernikahan kami, aku hamil.
Allah pun mulai menguji keteguhanku ketika dulu kukatakan siap menikah dengannya yang tidak berharta. Terus terang, sebelum menikah, aku terbiasa hidup bersama orang tua yang berkecukupan. Apalagi sebagai anak bungsu, aku manja sekali. Setelah menikah, aku mulai merasakan ternyata ujian berupa kemiskinan tidaklah mudah. Aku sering marah dan kesal karena apa yang kuinginkan seringkali tak terpenuhi. Bukan karena suamiku tidak mau memenuhi keinginanku, tapi keadaan ekonomi memang tidak memungkinkan. Hal inilah yang membuatku sering menangis. Semua terjadi karena kesalahanku yang terlalu banyak menuntut dan tidak mengerti keadaan suami.
Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, kurasakan suamiku ternyata seorang laki-laki yang sabar dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkanku serta mengajariku untuk bertawakal kepada Allah. Lambat laun sikapku yang egois dan mudah tersinggung berangsur-angsur berkurang. Suamiku begitu sabar mentarbiyahku. Selama menjadi istrinya, tidak pernah aku dibentak, dimarahi, apalagi dipukul. Jika sedang marah, suamiku hanya mendiamkanku sebentar lalu kembali mengajakku bicara sambil menasehati. Bahkan seringkali ketika terjadi perselisihan di mana aku yang salah, justru suamiku yang mendekat dan mendinginkan amarahku. Kemudian dia menegurku dengan cara yang akhirnya aku tidak bisa mengelak dari kesalahanku hingga aku pun malu dibuatnya.

Aku tidak bermaksud memujinya secara berlebihan, tapi sungguh suamiku suka mengalah, sangat dewasa, dan bijaksana. Bahkan banyak sekali kebaikan lainnya yang baru kuketahui setelah menikah. Banyak dari akhlaknya yang membuatku malu pada diri sendiri. Semua pesona akhlaknya membuatku tertantang untuk terus berbenah memperbaiki diri agar menjadi istri shalihah untuknya.

Subhanallah …, memang benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika ada seorang laki-laki datang kepadamu yang telah engkau ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah, dan jika tidak kamu lakukan maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”

(taken from kisahnyata)

Berkah Pernikahan Syar’i

Akan kubagikan kisahku kepada pembaca, di mana aku mengawali bangunan pernikahanku dengan proses yang indah. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan aku memperoleh balasan kebaikan atasnya.
Setelah melalui proses pencarian yang panjang dan melelahkan, hingga usiaku hampir kepala tiga …, alhamdulillah akhirnya Allah mempertemukanku dengan seorang laki-laki shalih menurut pandanganku, dan memang begitulah dia adanya.

Aku ingat sekali waktu itu, saat menerima sebuah amplop putih berisi biodata seorang ikhwan (laki-laki). Subhanallah …, belum pernah kurasakan perasaan seperti ini dalam proses-prosesku sebelumnya. Baru membaca biodatanya saja aku sudah menemukan perasaan aneh dalam hati, perasaan yang aku sendiri sulit menerjemahkannya. “Inilah orang yang kucari selama ini,” gumamku. Seorang laki-laki yang mempunyai visi pernikahan sama denganku, untuk menjalani kehidupan rumah tangga di atas jalan dakwah. Ada keinginan kuat dalam hatiku untuk menjalani proses dengan ikhwan tersebut hingga usai dan berakhir indah.

Entah mengapa, bunga-bunga bahagia mulai bersemi di hatiku, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Wajahnya seperti apa, aku juga tidak tahu. Sekuat tenaga aku berusaha menetralkan perasaan saat menjalani proses demi proses karena tidak menutup kemungkinan proses ta’arufku ini kandas di tengah jalan.

Jujur saja, aku tidak banyak mencari info tentang ikhwan ini. Aku percaya kepada wasilahku bahwa dia orang yang baik. Ketika aku mencoba mencari info lebih jauh ke pihak lain yang kuanggap mengenal baik ikhwan tersebut, lagi-lagi jawaban yang kudapatkan tidak beda jauh, “Dia orang yang baik dan shalih.” Akhirnya kuputuskan untuk tidak mencari info lagi dan menyerahkan semuanya pada Allah. Aku berdoa jika ikhwan ini jodohku, semoga dimudahkan bagi kami untuk bertemu dalam ikatan suci pernikahan. Kuluruskan niat dan kumulai tahapan-tahapan ta’aruf secara syar’i.

Akhirnya, setelah menjalani beberapa tahap proses, ikhwan tersebut memberi kabar kepadaku melalui wasilahnya bahwa dia akan melanjutkan proses. Bahagianya hatiku. Setelah penantian yang panjang …, akhirnya aku menemukannya juga. Serasa mendapat seteguk air dalam kehausanku. Ikhwan itu pun datang ke tempatku untuk nazhor sementara aku ditemani oleh saudara laki-lakiku. Gemetar hatiku dan tidak berani memandangnya lama-lama. Sekali kucuri pandang, mataku beradu dengan matanya, aku tak berani lagi menatapnya. Aku hanya sibuk melihat ke tempat lain untuk menetralkan rasa hatiku yang tidak menentu.

Setelah nazhor, bunga-bunga bahagia di hatiku makin merekah. Hingga wasilahku mengabarkan bahwa ibu ikhwan tersebut ingin bertemu denganku terlebih dahulu. Jika ibunya setuju denganku, maka ikhwan tersebut akan meminangku. Jika tidak, maka proses ta’aruf tidak dilanjutkan. Deg …! Aku benar-benar kalut. Bagaimana ini? Gelisah dan cemas rasa hatiku. Aku mulai ketakutan kalau-kalau ibunya tidak menerimaku. Apalagi beberapa kali kudengar ada akhwat yang kandas prosesnya gara-gara calon ibu mertuanya tidak setuju. Dan memang ketaatan seorang laki-laki adalah kepada ibunya. Aku hanya bisa pasrah dan memohon pertolongan-Nya. Berharap Allah menjaga hatiku apa pun yang terjadi dan memberikan yang terbaik untukku.

Tibalah saat pertemuanku dengan ibu calon mertua. Subhanallah …, cantik sekali. Aku jadi tidak PD dibuatnya. Ternyata beliau orang yang ramah dan baik hati. Alhamdulillah, kata wasilahku, begitu melihatku, beliau cocok dan tidak menghalangi proses kami. Aku bersyukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.

Maka proses ta’aruf pun kami lanjutkan dengan membicarakan seputar acara khitbah, walimah, mahar, dan sebagainya. Kami melakukan diskusi dan beberapa kesepatakan terkait hal-hal tadi dengan cara yang syar’i. Kami tidak bertemu langsung tapi berbicara dari balik hijab dan didamping wasilah.

Ada hal yang kadang membuatku tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Saat itu sang ikhwan melobi mahar yang kuminta, yaitu satu paket (8 jilid) kitab tafsir Ibnu Katsir yang waktu itu harganya berkisar satu juta. Menurutku, itu mahar yang cukup ringan dan aku memang membutuhkannya. Rupanya ikhwan tersebut keberatan dan hanya menyanggupi untuk memberikan mahar 1 jilid, yaitu jilid 8. Aku benar-benar kaget. Dalam hatiku, “Apa sebegitu tidak mampunya ikhwan ini?” Tapi berbekal wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak mempersulit mahar, aku pun melunak dan mempersilahkan ikhwan tersebut sesuai kesanggupannya. Wasilahku justru yang protes saat itu, supaya aku meminta lebih, atau diganti saja dengan cincin emas. Tapi aku menggeleng mantap. Aku sudah yakin dengan keputusanku dan tidak ada keraguan dengan prosesku kali ini.

Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya kami mencapai kesepakatan untuk menjalani akad nikah siri (tanpa melibatkan KUA) terlebih dahulu supaya bisa mengurus walimah syar’i. Keluargaku pun setuju. Akan tetapi, begitu mendapat masukan dari beberapa tetanggaku, rencana nikah siri pun dibatalkan. Mereka takut jika setelah nikah siri, suamiku melarikan diri dan tidak bertanggung jawab. Aku sudah mencoba memberikan argumen tetapi keluargaku tetap tidak setuju.

Setelah mempertimbangkan banyak hal dan diskusi dengan calon suamiku melalui wasilah, kami putuskan untuk melangsungkan khitbah, akad nikah, dan walimah satu paket. Artinya, dilangsungkan dalam hari yang sama. Keluargaku pun menyetujuinya.

Tibalah hari H. Aku sudah berunding dengan keluargaku untuk menyiapkan dua rumah untuk melangsungkan acara pernikahan. Satu rumahku sendiri, untuk menerima tamu laki-laki dan melangsungkan akad nikah. Satu lagi rumah kakakku yang alhamdulillah letaknya berdampingan dengan rumahku, untuk menerima tamu wanita.
Pagi hari calon suamiku didampingi wasilah dan keluarganya datang ke rumah dan melakukan khitbah untukku. Tidak lama berselang, perwakilan dari KUA datang untuk melangsungkan akad nikah. Ketika akad nikah akan dimulai, petugas dari KUA pun bertanya kepada calon suamiku, “Mas, apa yakin calon yang akan dinikahi seorang wanita?” Gerrr …, keluarga yang hadir pun tidak bisa menahan tawa.

Alhamdulillah, aku memang tidak disandingkan dengan calon suamiku sejak awal acara. Aku berada di rumah kakakku bersama keluarga wanitaku dan tamu-tamu wanita. Dan prosesi akad nikah tanpa menyandingkan calon mempelai laki-laki dan wanita memang hal yang masih asing di lingkunganku. Pun begitu, akad nikah berjalan dengan khidmat dan lancar. Aku pun tak dapat menahan genangan air mata bahagia saat para hadirin mengatakan, “Sah …, sah.” Alhamdulillah, akhirnya aku memperoleh predikat seorang istri. Ya, aku menjadi istri dari seorang laki-laki yang baru kulihat wajahnya sekilas, tapi aku yakin dengan kebaikan agamanya.

Tiba-tiba aku dipanggil oleh keluargaku, “Ke sini sebentar. Suamimu ingin bertemu.”
“Hah? Sekarang?”
“Iya, kapan lagi?”
“Tapi aku malu.”

Aku benar-benar malu ketika hendak dipertemukan dengan suamiku. Perasaanku campur aduk, tapi aku tidak punya pilihan lain. Sampai di depan kamar, aku menghentikan langkah hendak berbalik arah. Rasanya belum siap bertemu dengan suamiku. Tapi kakakku melihat gelagatku dan menarikku, menyuruhku masuk ke kamar sedang suamiku sudah menunggu di dalam.

Aku pun masuk sambil mengucapkan salam. Deg …, kulihat dia tersenyum. Aku hanya bisa tertunduk malu. Kujabat dan kucium tangannya. Apa yang dilakukan suamiku? Dia memegang ubun-ubunku dan berdoa. Subhanallah …, indah sekali mengenang masa-masa itu. Itulah pertemuan kedua di mana aku benar-benar bisa menatap wajah suamiku.
Kami tidak lama bersama karena acara walimah segera dimulai. Aku kembali bersama tamu wanita sementara suamiku ikut menjamu tamu laki-laki. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah proses walimah kami berjalan syar’i. Tetangga dan keluarga besar meski masih awam dengan cara tersebut, tetap datang dan ikut membantu pelaksanaan acara. Wasilahku tentu saja punya andil besar karena mereka mengawal proses kami sejak awal ta’aruf hingga lobi-lobi ke keluarga sampai dilangsungkannya akad nikah dan walimah.

Sekarang kami sudah dikaruniai dua anak. Alhamdulillah, kami menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagian dan canda tawa. Meski sesekali terjadi perselisihan di antara kami, semua itu justru menjadi bumbu yang menguatkan cinta kami. Semoga kisahku ini menginspirasi para pembaca untuk memulai bangunan cintanya dengan cara yang benar. Percayalah, setelahnya Anda akan menemukan banyak jalan-jalan kemudahan terbuka dan terbentang lebar.

(taken from kisahnyata)

Da’i Penderita Lumpuh Total

Namaku Abdullah bin Umar bin Abdullah Bani’mah. Kuniahku (panggilanku) adalah Abu Jinan, meskipun aku belum menikah dan belum memiliki anak. Aku dilahirkan di Makkah pada 14 Rabi’ul Awwal 1394 H, bertepatan dengan tanggal 12 Agustus 1974 M. Aku tinggal di Makkah bersama kedua orang tuaku. Pada usia 2 tahun, ibu membawaku ke Yaman dan kami tinggal di sana selama sepuluh tahun. Tempat tinggal kami dekat dengan bibi dan keluarganya. Setelah aku berusia 12 tahun, ibu kembali membawaku ke Saudi agar aku dididik oleh ayah dan melanjutkan studi di sana.

Ternyata ayah sudah pindah ke Jeddah dan membuka usaha di sana. Maka mulailah aku tinggal bersama kembali dengan kedua orang tuaku. Sewaktu di Yaman, aku sudah menghafal Al-Qur’an 3 juz. Di Jeddah, aku mengulang dari kelas 3 SD dan pada sore hari aku ikut tahfidz Al-Qur’an di masjid.

Pada tiap sore perjalanan dari rumah ke masjid untuk tahfidz, aku melewati lapangan dan melihat teman-teman sebayaku asyik bermain sepak bola. Mereka pun mengajakku bermain bersama. Awalnya aku menolak karena harus mengikuti tahfidz, padahal aku sebenarnya sangat ingin bergabung. Maka mulailah kuatur siasat. Aku berangkat dari rumah setengah jam lebih awal. Aku atur 15 menit untuk bermain bola dan 15 menit berikutnya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Dengan begitu, jadwal tahfidz Al-Qur’anku tidak terganggu.

Awalnya siasatku berjalan lancar. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu aku semakin keasyikkan bermain bola sehingga sering terlambat datang ke tahfidz. Bahkan aku datang pun dalam keadaan pakaian kotor dan penuh keringat. Aku sering tidak hafal ketika jatah setor hafalan. Ustadz yang mengajarku pun menegur dan menghukumku. Maka aku mencari-cari alasan di depan kedua orang tuaku dengan mengatakan ustadzku galak dan berperangai kasar. Selain itu aku juga butuh konsentrasi untuk belajar pada pagi harinya. Akhirnya orang tuaku menerima alasanku dan aku berhenti tahfidz. Akan tetapi, setelah aku SMP, ayah mengharuskanku ikut tahfidz.

Ketika masa-masa SMP ini, aku sedang tumbuh menjadi remaja yang mencari jati diri. Aku ikut kelompok olahraga; belajar karate, salto, angkat besi, berenang, dan pencak silat (ilmu bela diri dari Indonesia). Dalam pencak silat ini aku memfokuskan kekuatan di bagian leher. Aku benar-benar berada dalam puncak kesehatan dan kekuatan yang luar biasa. Dalam berkelahi, aku bisa mengalahkan empat orang sekaligus.

Sebagai remaja, aku berusaha diterima oleh teman-temanku. Mereka biasa berkumpul di kafetaria atau kantin dekat sekolah sebelum bel masuk. Aku pun bergabung bersama mereka. Aku ikut bersama mereka tertawa-tawa mendengarkan cerita lucu. Bersama mereka pula aku mulai belajar kata-kata kotor dan merokok secara sembunyi-sembunyi. Aku juga mulai belajar bolos sekolah.

Pada suatu hari ayah menemuiku dan mengatakan perihal perbuatan maksiat yang telah kulakukan, “Engkau merokok?!”

Maka kukatakan kepada ayahku, “Demi Allah aku tidak merokok!” Dan aku mengatakan itu dengan mengangkat suaraku di hadapannya. Jadilah suaraku lebih tinggi dari suaranya. Aku mempraktikkan sebuah pepatah “yakinkanlah mereka dengan suara yang keras” karena sesungguhnya ayahku tidak melihatku merokok secara langsung. Ayah hanya mendengar berita tentangku. Aku lupa pada saat itu bahwa mengangkat suara di depan orang tua adalah dosa, belum lagi kebohonganku dengan  mengatasnamakan Allah. Berkata “ah” kepada orang tua saja merupakan kedurhakaan, bagaimana dengan mengangkat suara di hadapannya? Tetapi setan telah menguasai hatiku. Yang kupikirkan saat itu adalah meyakinkan ayah bahwa tuduhannya tidak benar. Akan tetapi ayah begitu yakin bahwa aku merokok, sehingga beliau berkata, “Jika kamu berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.” Ayah pun berlalu dan kata-katanya kuabaikan begitu saja.

Keesokan harinya aku pergi ke laut berenang bersama adik dan teman-temanku. Selesai berenang di laut, kami pergi ke kolam renang dekat pantai. Rupanya kolam renang masih tutup. Ketika teman-teman berputus asa dan hampir pulang, aku punya ide untuk memanjat pagar. Teman-teman pun senang dengan ideku. Akhirnya kami memanjat pagar dan berenang.

Kedalaman air kolam ada yang 1,5 m dan ada pula yang 3 m. Saat itu tinggiku 180 cm dan dalam keadaan sehat. Saat itu aku terjun ke kolam dan ternyata kepalaku membentur dasar kolam. Kudengar suara leher patah dengan jelas beberapa kali. Allah telah menetapkan “Jadilah engkau lumpuh”, dan seketika itu pula aku lumpuh total tidak bisa menggerakkan badanku. Darah keluar dari hidungku dan aku tidak bisa mengeluarkan suara. Dalam keadaanku yang sekarat seperti itu, adik dan teman-temanku sama sekali tidak ada yang tahu. Salah seorang temanku curiga dan berkata kepada adikku bahwa aku belum juga muncul dari dasar kolam. Adikku menjawab, “Kakakku gemar menyelam, nanti juga muncul.” Kemudian adikku keluar kolam dan duduk agak menjauh untuk merokok.

Aku sempat bertahan dan sadar selama beberapa menit. Aku berjuang untuk bertahan hidup dan menahan napas lebih dari tiga menit. Aku sempat mengeluarkan napas agar gelembung udara di air bisa sampai di atas kolam dan terrlihat oleh teman-temanku dan segera memberiku pertolongan.

Selama dalam kondisi sekarat itu, aku memutar rekaman hidupku yang sudah kujalani selama 19 tahun. Hidupku penuh dengan kemaksiatan. Terakhir dalam rekaman ingatanku, terlihat kejadian beberapa waktu sebelumnya di mana aku bersedekah kepada seorang pemulung. Pemulung itu terharu dengan perbuatanku dan mendoakanku. Selesai melihat rekaman tentang pemulung tersebut, Allah melapangkan dadaku, maka aku teringat sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Barangsiapa akhir ucapannya La ilaha ilallah maka ia akan masuk surga.”

Maka kugerakkan bibirku mengucapkan syahadat. Setelah itu aku kemasukkan air dan pingsan di dasar kolam. Adikku yang telah selesai merokok kembali ke kolam dan berusaha mencariku karena aku tidak juga muncul ke permukaan. Adikku pun menemukanku dalam keadaan pingsan dan berusaha mengangkatku dibantu teman-teman. Adikku melihat kepalaku dalam keadaan terbalik dan segera membawaku ke rumah sakit.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, salah seorang teman membuat napas buatan untukku dan aku sempat sadar. Kukatakan kepada adikku agar menelpon ke rumah dan jika yang mengangkat ayah, agar memberitahukan bahwa aku lumpuh. Maka adikku berhasil menghubungi ayah yang segera menyusulku di rumah sakit King Fahd. Melihat keadaan itu, ayah menyesal dan menangis melihat penderitaanku, sementara aku menyalahkan diriku sendiri. Ayah mendoakanku, “Semoga Allah memilihkan kebaikan untukmu. Semoga Allah mencukupimu dari keburukanmu.” Sementara ibuku mendoakan, “Semoga Allah mengganti teman-temanmu dengan teman yang shaleh.”

Sejak kejadian itu, selama empat tahun aku menghabiskan waktuku dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk pengobatan lanjutan dan menjalani 16 kali operasi. Tidak terhitung biaya yang dikeluarkan untuk pengobatanku. Pernah suatu ketika aku dioperasi tanpa dibius. Kata dokter, jika dilakukan bius padahal tubuh kekurangan oksigen, maka dapat mengakibatkan stroke otak. Pada operasi itu aku mendapat 32 jahitan. Aku merasakan sakit dari ujung kepala hingga ujung kaki, tubuhku seperti dicincang-cincang. Alhamdulillah operasi tersebut berhasil padahal kemungkinan berhasilnya hanya 5%.

Meskipun sudah menjalani 16 kali operasi, aku tetap dalam kondisi lumpuh. Terakhir saat aku akan menjalani operasi yang ke-17, aku sudah dibawa ke ruang operasi  namun operasi batal dilakukan. Para dokter mengatakan bahwa kemungkinan berhasil hanya 1% sehingga kami pun membatalkannya. Alhamdulillah atas nikmat Allah sehingga aku masih diberi kesempatan hidup meski dalam keadaan lumpuh. Padahal sejak awal para dokter yang menanganiku tidak banyak berharap bahwa aku bisa diselamatkan.

Lalu apa yang terjadi setelah empat tahun aku menghabiskan waktuku di rumah sakit? Pembaca perlu tahu bahwa aku masih tetap merokok dan suka menonton sinetron. Aku baru bertaubat setelah sepupuku, Walid, banyak memberikan dukungan dan semangat padaku untuk berubah. Dia sering mengunjungiku dan membawa teman-temannya. Dia berkata padaku, “Wahai Abdullah, beberapa orang yang aku bawa ke sini untuk menjengukmu, mereka berubah menjadi lebih baik dalam agama mereka. Engkau harus bersungguh-sungguh memantapkan tekad untuk beristiqamah.” Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat hidayah-Nya. Kemudian aku berterima kasih kepada sepupuku Walid yang menjadi sebab aku memperoleh hidayah, semoga Allah membalas segala kebaikannya.

Alhamdulilllah sekarang aku banyak mengisi ceramah. Aku berharap bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Aku ingin membagikan kisah hidupku agar orang-orang bisa memetik pelajaran. Sungguh kita tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput. Lalu, bagaimana bisa kita bersantai ria menjalani kehidupan ini semau kita? Semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam kebaikan.

(Diringkas dari buku Saat Hidayah Menyapa Oleh Fariq Gasim Anuz, Penerbit: Daun Publishing)

Mutiara itu Berupa Hidayah

DSCN2842Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang cukup mapan dan terpandang di masyarakat. Kedua orang tuaku bekerja sehingga untuk urusan materi, hampir semua kebutuhanku terpenuhi. Hanya saja, ada yang kurasa kurang dari diriku. Kesibukan kedua orang tuaku membuat mereka lupa akan satu hal yang kubutuhkan, perhatian dan kasih sayang yang cukup terutama dari ibu. Masa-masa kecilku lebih banyak kuhabiskan dengan pengasuh. Dari mandi, makan, bermain …, kuhabiskan hari-hari kecilku bersama pengasuh tanpa banyak melibatkan sentuhan dan belaian tangan ibu. Hal inilah yang mungkin menjadi awal pencarian sesuatu yang hilang itu di luar rumah. Aku seperti haus akan kasih sayang. Aku mulai bergaul dengan teman-teman yang mengerti gejolak jiwa remajaku. Aku seperti mendapat tempat pelarian.

Suatu hari ketika aku duduk di bangku SMP, diadakan study tour  ke Bali. Selama empat hari kuhabiskan waktu di sana dan aku pun pulang bersama rombongan sekolah menggunakan kapal Feri menyebrangi selat Madura. Dia atas kapal dalam perjalanan pulang inilah aku merasakan sempoyongan. Bukan karena mabuk laut, tetapi akibat bir yang kunikmati untuk pertama kalinya. Alhamdulillah aku tidak sampai terjun ke laut meskipun itu hampir terjadi karena aku kehilangan kendali atas tubuhku. Di sinilah awal petaka itu. Pengalaman pertama di atas kapal Feri itu akhirnya menjadi kebiasaan buruk yang terus kulakukan hingga aku duduk di bangku SMA.

Dan tidak hanya satu barang haram itu saja yang kunikmati. Sejak kelas 2 SMP aku sudah menjadi perokok berat. Setidaknya, sebungkus rokok habis kunikmati dalam sekali duduk ketika belajar. Minuman keras dan rokok pun menjadi bagian dari hidupku. Tidak ketinggalan pula hobiku yang suka berkelahi di jalan dan bermain musik. Seakan dunia kebebasan dalam genggamanku. Aku terbuai dengan semua itu, seperti mendapat tempat berlabuh atas apa yang kucari selama ini.

Bersama teman-teman, aku membentuk grup musik. Aku menyalurkan keahlianku sebagai drummer. Aku sungguh piawai dalam mengebuk drum. Pukulan demi pukulan di atas drum seakan mewakili degup jantungku yang berdetak mencari sesuatu yang sebenarnya belum kudapatkan, entah apa itu. Terkadang sebelum pentas di panggung, aku bersama teman-teman menenggak minuman keras dulu agar sensasi penampilan kami semakin mantap.

Begitulah hari-hari kujalani dalam dunia remaja yang penuh kegalauan dan terjerembab dalam kemaksiatan. Hingga tibalah suatu hari saat pelajaran agama di bangku SMA. Waktu itu guruku berinisiatif memindah kegiatan belajar di mushala sekolah. Kami duduk lesehan dan tentunya siswa putra dan putri dipisah. Seperti biasa, sembari menunggu guru datang, kami menghabiskan waktu untuk ngobrol tentang apa saja. Termasuk juga aku. Temanku mendengarkan cerita tentangku yang suka nge-band dalam keadaan teler. Spontan saja dia berkomentar tanpa mukadimah, “Mabuk itu membuat doa tidak dikabulkan lho.” Aku cuma menjawab, “Yang benar ni?” Temanku menjawab enteng, “Iya.” Saat itu aku tidak bertanya tentang dalilnya ada di Al-Qur’an atau Hadits. Yang jelas, kata-kata temanku saat itu begitu mengena di hatiku dan aku terus memikirkannya. Mulai saat itu juga aku memutuskan untuk tidak minum minuman keras lagi. Proses ini pun terasa sangat menyiksaku. Bagaimana pun juga minuman keras sudah menjadi bagianku, jadi ketika tiba-tiba aku memutuskan berhenti, sungguh itu hal yang sulit. Terkadang ketika keinginan untuk minum itu datang, aku merasa gelisah, jantung berdebar, dan dada terasa sakit. Tapi aku tetap bertahan demi tekadku bahwa aku masih ingin doaku dikabulkan. Dan akhirnya aku berhasil lepas dari kebiasaan minum dengan caraku sendiri, dengan semangat dan tekad yang kubangun berkat kata-kata temanku. Alhamdulillah, semua terjadi atas pertolongan Allah. Dan hal lain yang membuatku senang, teman-temanku tidak mempermasalahkan ketika aku memutuskan berhenti minum minuman keras. Mereka hanya berkomentar, “Nggak apa-apa, memang seharusnya begitu, berhenti minum, kami saja yang belum bisa berhenti.”

Apakah aku terus berubah menjadi pemuda yang alim? Tunggu dulu …, aku masih sering nge-band dan jadi pecandu rokok. Sebagai penggemar musik, aku merasa mendapat tempat ketika masih memiliki grup band dan sering manggung bersama teman-teman. Meskipun setelah lulus SMA aktivitas nge-band berhenti karena masing-masing anggota band melanjutkan kuliah ke tempat yang berbeda-beda, tetapi kecintaanku terhadap musik masih saja membara. Musik memang candu yang hebat. Orang yang hobi mendengarkan musik, sering lalai beribadah, kecuali dia beribadah menggunakan musik. Hendak mencari pembenaran, kok ya tidak kutemukan riwayat dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ataupun para shahabat yang beribadah atau berdzikir menggunakan musik. Dalam pencarian yang panjang, akhirnya aku berhasil menyatakan talak tiga kepada musik dan memulai hariku untuk lebih banyak beribadah. Itu terjadi ketika aku sudah berada di akhir masa kuliahku. Benang merahnya, bahwa musik itu melenakan dan membuat lalai, jadi aku bertekad meninggalkannya. Alhamdulillah berhasil.

Saat awal-awal kuliah, aku masih menjadi pecandu rokok. Orang tua tahu hobiku yang satu ini, tapi mereka pun tidak bisa membuatku berhenti. Meskipun memiliki penyakit asma, toh hal itu tidak membuatku jera dari mencintai tuhan sembilan senti itu. Sampai pada suatu pagi saat aku duduk-duduk di taman kampus sambil menunggu jadwal kuliah, kuhabiskan waktu untuk menikmati kepulan asap rokok. Hisapan demi hisapan kunikmati dan kuhembuskan asapnya dengan kepuasan, seakan ingin kubuang sesuatu yang memenuhi rongga dada. Tiba-tiba seorang teman menghampiri dan mengajakku ngobrol. Kami berbicara tentang banyak hal mulai tugas kuliah sampai urusan pribadi. Sementara mengobrol, aku masih assyik dengan kepulan rokokku. Temanku mungkin merasa terganggu dengan kebakaran lokal yang terjadi di mulutku. Maka dia pun berkata, “Orang merokok itu gimana ya, jelas-jelas tahu merugikan tapi kok ya melakukan?” Aku terdiam dan berpikir. “Iya, ya …,” gumamku. Mulai saat itu, entah dengan proses apa, aku mulai berhenti merokok. Tidak seperti saat aku berhenti minum, lepasnya aku dari rokok relatif lebih mudah. Sekali lagi semua atas pertolongan Allah, aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan meninggalkan hal-hal yang sia-sia dalam hidupku. Maha Suci Allah. Entah berapa banyak dosa yang harus kutanggung kalau saja aku masih merokok. Merokok tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang yang berada di sekitarku. Dan selama merokok itu, entah sudah berapa banyak orang yang telah kudzalimi dengan asap rokokku. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku.

Seiring dengan taubatku, aku mulai memperdalam pengetahuanku tentang Islam. Aku mencari guru ngaji yang bisa membimbingku untuk ber-Islam dengan lebih baik. Dalam proses mendalami Islam ini pun aku masih harus berjuang dan mencari ke mana-mana karena ternyata banyak sekali yang mengaku Islam tapi yang diajarkan tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Alhamdulillah atas petunjuk Allah aku berhasil menemukan Islam yang sesungguhnya, yang begitu mencintai ilmu dan kebaikan serta berjalan di atas petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.

Sekarang aku sudah menikah dan dikarunia seorang putri. Alhamdulillah, hari-hariku penuh dengan kegiatan belajar ilmu agama dan berdakwah. Aku berharap orang-orang dapat ikut merasakan kenikmatan mereguk Islam seperti yang kurasakan. Semoga aku selalu istiqamah di jalan kebenaran ini dan menjadi jalan hidayah bagi orang lain. Aamiin ….

(taken from kisah nyata)

Ketika Tiba Saatnya Aku Menganggukkan Kepala (III)

Hari demi hari kujalani dengan berbagai aktivitas yang menyibukkan. Dari pagi sampai malam, agendaku begitu padat. Bahkan terkadang memaksa mataku untuk tetap terbuka melebihi batas biasanya. Tapi aku menikmatinya. Dan hal ini pun membuatku tidak terlalu risau dengan status “jomblo”ku. Jangan dibilang berbagai kesibukan yang kulakukan adalah bentuk pelarianku. Tidak. Aku mencoba menikmati hidup meski pada kenyataannya memang aku masih sendiri. Dalam kesendirian, toh aku punya hak untuk bahagia. Bukankah bahagia itu tanpa syarat? Jadi, kenapa aku harus menunda bahagiaku sampai aku mendapatkan kekasih hati? Apa salahnya jika aku putuskan untuk bahagia saat ini juga?

Ada yang bilang, usiaku sudah masuk kategori telat menikah. Yah, aku tidak keberatan dibilang begitu. Apalagi memang banyak remaja di sekitarku yang usianya jauh di bawahku sudah memiliki anak. Tidak aku ingkari, terkadang hatiku meradang juga, tapi aku mencoba untuk kuat, kuat menjalani kesendirian ini. Sedih juga jika ingat keluargaku yang terus memusingkan status jombloku. Tapi apa boleh buat? Tidak mungkin kan aku asal menikah? Asal memperoleh status sebagi “istri”. Aku punya standar dan prinsip sendiri. ‘Idealis’ kata temanku. What ever-lah, yang jelas, bagiku, urusan nikah adalah urusan dunia dan akhirat, jadi butuh pertimbangan matang untuk memutuskannya.

“Namanya juga belum ketemu jodoh”, itu saja jawabku jika keluarga sudah mulai bicara ke arah itu.

Yah, aku sadar, setegar apa pun aku di hadapan siapa pun, aku tetap tidak bisa tegar di hadapan diriku sendiri. Tapi aku yakin Allah Mahaadil. Allah tidak akan memberikan cobaan yang aku tidak sanggup melampauinya. Hal inilah yang seringkali menghiburku menjalani hidup ini.

Musim penghujan telah berganti kemarau, kering dan gersang seperti hatiku. Tapi sebagaimana musim, aku yakin keadaanku pun akan berganti. Akan ada siang setelah malam. Semua akan baik-baik saja. Ya, aku yakin itu ….

Hingga pada suatu ketika, setelah melalui beberapa tahap ta’aruf dengan seorang ikhwan, aku ingin sekali memberikan jawaban YA. Tapi aku terkungkung rasa malu, hingga akhirnya aku hanya memendamnya sendiri.

“Gimana prosesnya, apa sudah final?” tanya sahabatku.

“Doakan aku segera menyusul anti”, balasku.

“Lha gimana, anti ada kemantapan ga?”

“Ada sih, ah, tapi entahlah.”

“Allah memberi yang terbaik, percayalah. Tunggu saja kabar dari ikhwannya. Kemungkinan berhasil dan gagal selalu ada. Anti tetap jaga hati, dijaga kelurusan niatnya. Jangan terlalu berharap pada hal yang belum pasti, supaya tidak sakit ketika yang terjadi bukan hal yang kita inginkan.”
“Iya, insyaAllah. Aku pegang nasehat anti. Aku awali proses ini dengan Bismillah ….”

“Ya udah kalau begitu. Jaga diri baik-baik.” Tut … tut … tut … sambungan telepon diputus.

Aku menghela napas panjang, seakan ingin membuang beban berat yang menghimpit hatiku.

Ta’aruf yang kujalani saat ini rasanya memang beda. Sejak awal membaca biodatanya, aku sudah merasakan ada kemantapan. Apalagi setelah menjalani beberapa kali diskusi, aku semakin mantap. Visi misi hidup kami sejalan, hidup untuk dakwah. Karakternya juga dewasa, tidak seperti aku yang sering bersikap kekanak-kanakan. Ah, entahlah … tiba-tiba aku sangat berharap proses ini berhasil. Tapi kucoba meredam rasa ini dan memilih menunggu ….

Dan suatu hari dalam masa penantian ta’arufku ….

“Besok anti bisa ga meluangkan waktu ke tempat ana?” sms dari walisahku.

“Ada apa ya mbak?”

“Ikhwannya bersedia lanjut ni. Anti gimana, setuju lanjut juga tho?”

“:)”

“Besok ikhwannya mau membicarakan terkait khitbah dan sebagainya. Gimana?”

“Siiappp!!”

Alhamdulillah … usai sudah pencarian ini. Akhirnya aku bisa mengangguk lega. Allah telah mempertemukanku dengan orang yang tepat di ujung penantianku.

-end-

(taken from kisahnyata)

Ketika Tiba Saatnya Aku Menganggukkan Kepala (II)

Malam dan siang silih berganti. Bulan dan matahari terus berkejaran. Waktu terus berdetak, melibas batang usiaku, menggerogoti jatah waktuku. Tak terasa setahun berlalu sudah, dan aku masih tetap sendiri. Terngiang kembali ucapan sahabatku. Ah, benarkah kereta terakhirku sudah lewat? Gelisah mulai menyapa hati. Gundah gulana, tidak ada teman berbagi. Hanya kepada Allah saja kutumpahkan tangis dan sedihku. Kurenungkan kembali keputusan yang sudah kubuat setahun yang lalu. Benarkah aku salah membuat keputusan? Benarkah keputusanku lebih didasari hal keduniaan? Ah kutepis hal itu. Hatiku tetap yakin bahwa keputusanku sudah tepat. Kalau toh sekarang keadaanku seperti ini, ini adalah bagian dari ujian-Nya kepadaku. Aku yakin ini keadaan terbaik untukku saat ini. Ah, tapi kenapa dia tak kunjung tiba? Hatiku terus bertanya dalam diam, menanti kejutan.

Sampai suatu hari, ada sms masuk, tawaran ta’aruf. Hatiku sedikit lega, setidaknya tawaran ini membasuh dahaga hatiku, mengurai benang kusut di jiwaku. Aku sangat berharap ta’aruf ini berakhir indah. Akhirnya kukirimkan biodataku melalui sms. Hari berikutnya, aku mendapat balasan sms berisi biodata ikhwan yang menandakan ikhwan itu menerima biodataku. “Ditunggu jawabannya segera ya, ukh. Ikhwannya tidak lama di sini”, pesan singkat dari wasilahku.

“Iya, insyaAllah segera ana kabari.”

Kubaca biodata ikhwan, sebut saja itu namanya. Namanya asing  bagiku dan aku memang belum pernah mengenalnya. Usianya terpaut 1 tahun di bawahku. Setelah melalui berbagai pertimbangan, tidak ada alasan syar’i bagiku untuk mundur. Akhirnya kusetujui biodata itu untuk diproses lanjut.

Pagi itu aku bergegas ke rumah wasilahku karena kami akan diperrtemukan, akan ada diskusi, begitu kira-kira kata wasilahku. Aku pun sudah menyiapkan deretan pertanyaan yang kutulis di selembar kertas yang rencanaku akan kusampaikan ke Ikhwan. Hmm… rupanya Ikhwan sudah sampai lebih awal dariku, itu kata wasilahku. Akhirnya ta’aruf pun dimulai. Dari balik hijab, kudengar suara ustadz mengawali proses ta’aruf dan menyilahkan Ikhwan mulai memperkenalkan dirinya. Ikhwan mulai berbicara, dan bla … bla … bla … aku mulai kehilangan selera. Sungguh di luar dugaanku ikhwan itu memulai ta’arufnya dengan membahas hal keduniaan. Kuisyaratkan pada wasilahku untuk disudahi saja.

“Eh, dengarkan dulu, biarkan Ikhwan selesai bicara, baru nanti anti bisa mengajukan pertanyaan. Mengalir sajalah”, bujuk wasilahku.

Setelah beberapa jam akhirnya ta’aruf usai. Berhubung Ikhwan tinggal di luar kota, ustadz mengusulkan untuk nazhor sekalian selepas shalat dhuhur.

“Afwan Ustadz, ana belum bisa, beri ana kesempatan berpikir”, ucapku dari balik hijab.

“Kalau begitu, ana beri waktu 3 hari untuk berpikir dan ana tunggu jawaban lanjut tidaknya proses ini.”

Akhirnya aku pulang dengan rasa yang tidak menentu.

Malam merayap, menaburkan kegelapan dan hawa dingin. Bintang-bintang di langit berkerlip indah di lautan gelap pekat. Burung-burung pulang berlindung di sarangnya.  Dan aku pun terpaku sendiri di kamarku. Airmata menetes dalam diamku. Aku tidak bisa melanjutkan proses ini meski aku ingin. Ah, kenapa begitu sulit menemukan pangeran berkuda putih yang bisa membawaku ke istananya?

Ikhwan bukan tipe yang kuharapkan. Dia menawaran dunia, ah …. yang kubutuhkan adalah teman yang siap berbagi dalam medan dakwah, tidak sekedar menjadikanku istri yang setia menunggunya di rumah.

Satu hari berlalu. Aku mencoba mencari celah agar ada kemungkinan aku untuk lanjut. Ah, tapi hatiku tidak bisa ditawar. Hatiku tidak memberikan sinyal apa-apa. Aku memang tidak berusaha mencari informasi terlalu jauh. Aku hanya bertanya ke wasilahku terkait Ikhwan, dan selebihnya aku lebih fokus berdoa dan mohon petunjuk-Nya. Dan lagi-lagi hatiku mantap untuk mundur …. sedih rasanya, tapi aku harus melakukannya.

Hari kedua, malam hari. Kuraih HP untuk mengirimkan sms ke wasilahku. Ternyata ada sms masuk.

“Ukh, Ikhwan ingin melanjutkan proses.”

Hff …, udah keduluan.

“Afwan um, ana tidak bisa melanjutkan proses. Semoga Ikhwan mendapatkan ganti yang lebih baik.”

“Anti sudah pertimbangkan matang-matang?”

“Sudah um, insyaAllah ini keputusan terbaik.”

“Apa tidak dicoba untuk tahap selanjutnya, siapa tahu nanti bisa berubah pikiran.”

“Tidak um, hati ana sudah mantap. Afwan ya um.”

“Ya sudah, tidak apa. Ana dan ustadz bisa memahami keputusan ini. Semoga Allah memebri ganti yang lebih baik.”

Aamiin … spontan kuucapkan setelah membaca sms terakhir itu.

Kuhapus air mata yang masih tersisa.

“Ya Allah, aku akan bertemu dengannya, pada saat yang tepat. Aku tahu saat ini dia sedang menungguku. Aku tahu, Engkau sedang mengatur pertemuan yang indah untuk kami.”

Akhirnya … beginilah akhirnya …. Hari demi hari kembali kulewati, masih seperti dulu, sendiri ….

(taken from kisahnyata)