Komunikasi Positif

Saudaraku, kita tentunya menyadari bahwa kita diciptakan sebagai makhluk sosial. Tentunya, kita membutuhkan orang lain yang mana dengan itu butub komunikasi dua arah agar dapat terjalin hubungan yang baik.

Demikian juga halnya dengan kehidupan rumah tangga yang sedang kita bina bersama pasangan, akan terasa indah jika ada komunikasi dua arah yang seimbang.

Sebagai terapis, tidak jarang, bahkan bisa dibilang sering, saya bertemu dengan mitra terapi dengan berbagai macam keluhan, yang ujung-ujungnya disebabkan karena hubungan yang kurang baik dengan pasangan.

Terkadang kita menginginkan pasangan kita begini dan begitu. Jangan ini dan jangan itu. Tetapi, itu hanya terungkap dalam hati. Lalu, bagaimana mungkin pasangan kita bisa mendengarnya?

Atau juga, ada yang menginginkan pasangannya begini dan begitu, dan sudah menyampaikannya pula. Tapi dengan bahasa kritikan, menggurui, atau tidak dalam situasi yang pas. Yah, tentu runyam jadinya.

 

Saya hanya sedikit sumbang saran, semoga bisa jadi sarana solusi bagi saudaraku yang merasakan hubungan kurang harmonis dengan pasangan.

Cobalah untuk membuka komunikasi positif dengan pasangan. Jangan setiap kekesalan dipendam sendiri, pun jangan diluapkan sepenuhnya kepada pasangan. Belajarlah memahamk karakter pasangan Anda, dan cari cara supaya Anda dan pasangan bisa bercengkrama serta berbincang asyik tentang banyak hal.

Anda sibuk? Ya, saya memaklumi itu. Akan tetapi, jangan sampai kesibukan itu membuat hambar hubungan Anda dengan pasangan. Jangan sampai kesibukan Anda membuat magnet di hati Anda memudar  energinya untuk tarik menarik dengan hati pasangan.

Kesempatan-kesempatan kecil bisa Anda gunakan untuk menjalin komunikasi dan kemesraan dengan pasangan. Jangan biarkan detik-detik berharga bersama pasangan tenggelam begitu saja dalam kelelahan Anda setelah seharian berjibaku dengan padatnya pekerjaan.

Selepas santan malam, menjelang tidur, di sepertiga malam, bangun tidur, di meja makan, di waktu-wakti senggang, akhir pekan. Banyak kesempatan. Hadirlah sepenuhnya untuk pasangan Anda. Ajak bicara dari hati ke hati. Banyak hal. Beri perhatian meski kecil, dan jangan menganggap enteng sebuah perhatian kecil karena energinya sungguh luar biasa. Kesankan bahwa pasangan aman bersama Anda. Yakinkan bahwa Anda siap mendengarkan cerita dan keluh kesahnya. Percayakan padanya bahwa tidak ada rahasia di antara Anda dan pasangan.

Seringkali yang terjadi, satu sama lain tidak membuka diri, menggerutu dibelakang, memendam rasa, cari pelarian. Ini bukan solusi, bahkan bisa jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Kenapa Ansa berpikir pasangan Anda tidak bisa dimasih masukan dan saran? Sudah tepatkah cara yang Anda lakukan? Adakalanya kebaikan itu tertolak bukan karena kebaikannya, tapi cara penyampaian yang kurang tepat.

Karenanya, mari lebih dekat dengan pasangan kita. Pahami betul karakternya dan lakukan cara-cara untuk membangun komunikasi sua arah yang hangat, tidak menghakimi, tisak menggurui, penuh cinta dan kemesraan.

Semoga Allah memberikan keberkahan dalam rumah tangga Anda,

Advertisements

Terima Kasih Suamiku

Saudariku, kapan terakhir kali engkau mengucapkannya? Ucapan yang sangat sederhana, namun kekuatannya sangat besar untuk memperkokoh bangunan cintamu dengan pasangan.

Tadi pagi? Alhamdulillah. Berbahagialah engkau saudariku, yang senantiasa meringankan bibirmu untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada suamimu. Dia sudah menjadi imammu, mengambilmu dari orang tuamu untuk menjadi tanggungan hidupnya. Dia rela berjibaku dengan debu jalanan, menguras tenaga-waktu-pikiran, mengabaikan kelelahan dirinya demi membahagiakanmu.

“Terima kasih, suamiku.” Ah, kata itu tentu terasa sangat indah terdengar di telinga suami kita. Tentunya jika diungkapkan dengan ketulusan hati, bukan basa-basi. Kelelahannya seakan menguap melihat binar matamu yang memancarkan kebahagiaan atas apa yang telah dia suguhkan padamu. Hanya sebuah kalimat yang pendek, saudariku. Jaga itu …. Demi keindahan bangunan rumah tangga yang sedang engkau bina. Demi keridhaan suamimu, yang tentunya ini mendatangkan keridhaan Allah padamu.

“Terima kasih, suamiku …..” Jangan sungkan dan malu mengutarakannya. Jangan merasa rendah ketika mengucapkannya. Kalimat itu justru memuliakanmu. Engkau menjadi istri yang pandai bersyukur ….

“Terima kasih, suamiku.” Ucapkan itu dalam moment-moment kebersamaan Anda. Ketika suami membantu Anda membetulkan kompor, membantu mengasuh si kecil, membetulkan atap rumah yang bocor. Ah …, bnyak kesempatan saudariku. Manfaatkan itu. Jangan berkutat pada pikiran ‘itu kan sudah tugas dia, sudah kewajiban dia’.

Ingat saudariku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyampaikan bahwa banyak kaum wanita yang akan menjadi penghuni neraka karena banyak yang tidak tahu berterima kasih kepada suaminya. Maka marilah saudariku, jangan sampai kita termasuk golongan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu.

Selamat mencoba saudariku. Dan engkau yang sudah mencoba, pertahankan itu. Semoga rajutan cinta yang engkau bina bersama suamimu semakin kokoh dan indah.

Mencintai Suami

Menikah? Satu kata itu banyak menggelitik terutama bagi mereka yang belum menikah. Betapa tidak? Menikah merupakan sebuah nikmat yang tidak setiap orang mendapatkannya, apalagi menikah dengan orang yang tepat. Tidak sedikit kita mendengar mereka yang sudah menjalin hubungan asmara sebelum menikah–pacaran–selama bertahun-tahun, yang katanya dengan pacaran itu bisa untuk menjajaki dan saling mengenal satu sama lain, ternyata pernikahannya kandas hanya dalam hitungan bulan. Betapa mereka yang menikah karena calonnya seorang hartwan, mempunyai status sosial yang cukup tinggi, wajah yang menawan, toh menjalani pernikahannya dalam isak tangis dan kesedihan yang berkepanjangan.

Sadarilah, bahwa menikah itu menyatukan dua hati, dua kepribadian. Pernikahan yang langgeng kebahagiaannya hanyalah pernikahan yang dibangun atas dasar takwa, pernikahan yang diawali dengan kelurusan niat untuk menjaga diri dari fitnah dan untuk meraih keridhaan Allah. Pernikahan yang dibangun di atas takwa tidak akan menimbulkan kekecewaan ketika mendapati pasangan yang memiliki kekurangan, karena diri sendiri juga tidak lepas dari hal demikian. Pernikahan yang dibangun karena takwa, tidak akan menimbulkan perselisihan berkepanjangan ketika ada masalah dengan pasangan karena satu sama lain berusaha mencari jalan keluar demi keutuhan rumah tangga dan tetap teraihnya keridhaan-Nya. Pernikahan yang dibangun di atas landasan takwa akan selalu berusaha menjaga perasaan pasangan, adanya saling kepedulian, menikmati suka duka bersama. Itulah pernikahan yang indah. Pernikahan yang banyak dirindukan oleh mereka yang sedang mengalami badai rumah tangga.

Aku bahagia dengan pernikahanku. Aku bahagia dengan keluargaku. Aku bahagia bersama suamiku. Bukan karena suamiku tidak punya kekurangan, tapi aku pun menyadari bahwa aku pun demikian. Semua adalah karena nikmat Allah. Nikmat yang berusaha selalu kusyukuri agar Allah menambahkan nikmat yang lain untukku dan keluargaku. Bukan maksudku untuk membuat pembaca cemburu dengan kebahagiaanku, hanya ingin berbagi, berbagi kepada mereka yang sedang membangun rumah tangga tetapi sering mengalami goncangan hingga seakan bangunannya mau runtuh.

Saudariku, engkau yang sedang dirundung masalah rumah tangga, ambillah jeda sejenak untuk introspeksi. Jika ada yang salah dengan niat awal pernikahanmu, segeralah membenahinya, segeralah engkau meluruskan niat demi Allah semata. Jika jalan yang engkau tempuh menuju pernikahan adalah jalan yang salah, engkau menempuhnya melalui jalan pacaran sebelum akad nikah, maka bertaubatlah, sungguh Allah Maha Pengampun kepada hamba-Nya. Jika suamimu mengacuhkanmu, doakanlah dia, cobalah untuk memperbaiki sikapmu, juga memperbaiki hubunganmu dengan Allah. Jika masalah rumah tangga seakan tak kunjung habisnya, perbanyaklah istighfar, mengadulah kepada sebaik-baik pemberi solusi, Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh Allah tidak pernah mengabaikan hamba-Nya, justru kita yang sering lalai kepada-Nya.

Saudariku, jika ada yang tidak sesuai dari harapanmu terhadap suamimu, sadarilah bahwa suamimu adalah manusia biasa. Jangan terlalu fokus pada kekurangannya, tapi lihatlah segala kebaikannya. Jangan sampai setitik kekurangannya menutupi hatimu dari deretan kebaikan yang disuguhkannya padamu. Kekurangan yang ada bisa diperbaiki bersama. Dan jalinlah komunikasi yang positif dengan suamimu, karena tidak sedikit mereka yang memendam masalah, menghendaki hal-hal dari suaminya tanpa pernah menyampaikannya, dan akhirnya memendam lara sendiri.

Saudariku, percayalah, bahwa pernikahan yang sudah engkau miliki, itu adalah nikmat Allah yang harus engkau jaga. Betapa mereka di luar sana banyak yang sudah cukup usia untuk menikah, tetapi Allah belum mempertemukan dengan jodohnya–aku doakan semoga mereka diberi kesabaran dan segera dipertemukan dengan orang yang tepat–. Ingat-ingatlah hal itu, supaya engkau bersyukur dengan nikmat pernikahan yang sudah engkau raih dan berusaha memperbaiki yang ada.

Tetap Memikat Meskipun Sedang Haid

Saudariku, sudah menjadi fitrah seorang wanita bahwa setiap bulan dia mendapat jadwal haidh (datang bulan). Tentu saja, ada kebiasaan yang berubah ketika kita sedang mengalami masa haid dibandingkan hari biasa. Ketika haidh, Allah melarang kita melakukan jima’ dengan suami. Larangan ini tercantum sangat jelas dalam firman Allah,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah [2]: 222)

Melalui firman-Nya, Allah menjelaskan bahwa haidh adalah kotoran. Apabila suami istri melakukan jima’ pada saat istrinya sedang haidh, maka hal itu dapat mendatangkan penyakit berbahaya baik bagi istri ataupun sang suami. Sebagai kotoran, darah haidh adalah darah najis yang mengandung banyak kuman. Oleh karena itu larangan Allah tersebut mengandung hikmah yang sangat besar.

Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa yang mendatangi wanita (menjima’ istrinya) yang haidh atau pada liang anusnya atau mendatangi tukang ramal lalu mempercayai apa yang dikatakannya, sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullah.” (HR Ash-Habussunnah kecuali Nasa’i). Larangan Allah dan Rasul-Nya ini bersifat jelas dan haram jika dilakukan. Oleh karena itu saudariku, perhatikanlah larangan ini dan jauhilah.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika sedang haidh sementara suami membutuhkan kita? Tidak usah bingung. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan terbaik kita telah memberikan bimbingan dan arahan untuk kita. Yang jelas, selama masa haidh kita dilarang melakukan jima’ dengan suami. Hanya saja, untuk yang lainnya kita masih dibolehkan. Kita boleh bersenang-senang dan melakukan cumbu rayu dengan suami. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah memerintahkan kepada seseorang di antara kami untuk mengenakan kain, kemudian suaminya boleh tidur bersamanya.” Pada waktu lain Aisyah mengatakan, “Boleh mencumbuinya atau bersenang-senang dengannya.” (HR Bukhari Muslim). Mengenakan kain di sini maksudnya menutup anggota tubuh bagian bawah, yaitu antara pusar dan lutut.

Dalam riwayat lain, ketika ditanya tentang jima’ semasa seorang istri menjalani masa haidh, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, meskipun sedang haidh, kita tetap harus berusaha tampil cantik di depan suami. Kita juga harus belajar menjaga dan mengendalikan emosi, karena biasanya pada masa haidh kondisi emosi wanita menjadi labil. Jika memang kita mengalami kondisi emosi yang labil ada baiknya kita menjaga jarak atau menjauh sebentar dari suami agar tidak terucap kata atau terjadi tindakan kita yang tidak menyenangkan suami.

Kita juga perlu memahamkan kepada suami bagaimana kondisi kita ketika sedang haidh. Selain emosi yang labil, biasanya wanita mengalami gangguan konsentrasi dan keadaan fisik yang kurang fit. Dengan memahamkan ke suami, insyaAllah suami dapat memperlakukan kita secara bijaksana ketika masa haidh. Dan perlu kita ketahui, apa yang berlaku ketika haidh, juga berlaku saat seorang wanita mengalami masa nifas. Pada dua keadaan ini (haidh dan nifas), wanita dilarang berjima’ dengan suaminya.

Istri Idaman Pandai Menyimpan Rahasia Suami

pantun cintaSaudariku, sudah hal yang sewajarnya ketika seorang suami menaruh kepercayaan kepada istrinya, mencurahkan hal-hal terpendam yang membuatnya menjadi tenang. Karenanya, seorang istri idaman tentunya akan pandai menyimpan dan menjaga rahasia suaminya sehingga cukup hanya dirinya saja yang tahu. Dengan begitu suami menjadi tenang dan cinta yang telah tumbuh menjadi semakin mengakar.

Saudariku, sebagaimana kita ketahui, waktu adalah nikmat yang sangat berharga. Alangkah meruginya jika waktu yang kita punya banyak dihabiskan untuk pembicaraan yang tidak bermanfaat, apalagi membicarakan rahasia keluarga dan suami. Kita perlu menyadari bahwa menyebarkan rahasia keluarga hanya akan mengundang masalah sehingga dapat menghancurkan tiang-tiang rumah tangga itu sendiri.

Dalam kehidupan rumah tangga, kita tentunya memiliki banyak rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh kita dan pasangan. Seorang suami pastilah menceritakan hal-hal rahasia yang dimilikinya kepada istrinya. Maka pandai-pandailah menjaganya agar tidak diketahui orang lain sekalipun anak dan keluarga dekat.

Suatu kisah yang dapat kita ambil hikmahnya adalah apa yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pernah terjadi pembicaraan antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Hafshah dan beliau sangat merahasiakan pembicaraan itu. Akan tetapi, Hafshah menceritakannya kepada Aisyah sehingga terjadi persengkokolan di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebabkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memisahkan diri dari istri-istrinya selama sebulan karena kekecewaan beliau yang sangat kepada mereka. Kisah ini tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 3:

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Lalu Allah mengingatkan kesalahan Hafshah dan Aisyah dan memerintahkan keduanya agar segera bertaubat agar hatinya kembali kepada Allah,

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (QS At-Tahrim [66]: 4)

Di ayat selanjutnya, Allah memberikan ancaman keras kepada keduanya jika mereka masih berpegang pada kesalahannya.

عَسَى رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS At-Tahrim [66]: 5)

Dari kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an tersebut, terdapat hikmah sangat besar yang bisa diambil para wanita tentang nilai pemeliharaan wanita terhadap rahasia suami dan pengaruh pemeliharaan tersebut bagi keteguhan jiwa dan ketenangan rumah tangga.

Saudariku, termasuk dalam perkara ini juga adalah menjaga rahasia hubungan suami istri. Sadarilah bahwa membicarakan hubungan intim suami istri merupakan pembeberan rahasia yang paling buruk dan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berakhlak buruk.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat ialah seorang lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian ia membeberkan rahasia istrinya.” (HR Muslim).

Hadits tersebut mengandung larangan bagi laki-laki menceritakan rahasia hubungan seksualnya dengan istrinya. Dan larangan ini tidak terbatas untuk kaum laki-laki saja, untuk kaum wanita pun dilarang melakukan hal yang demikian.

Diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid bahwa ketika dia berada di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada sejumlah kaum lelaki dan wanita yang sedang duduk, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Adakah seorang lelaki yang menceritakan apa yang telah dilakukannya dengan istrinya dan adakah seorang wanita yang menceritakan apa yang telah dilakukan dengan suaminya?”

Kaum yang hadir semuanya diam. Lalu aku (Asma’) berkata, “Ya, demi Allah, wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sesungguhnya mereka (kaum wanita) ini benar-benar melakukannya dan sesungguhnya mereka pun (kaum lelaki) benar-benar melakukannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jangan kamu lakukan! Sesungguhnya hal itu tidak ubahnya seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan wanita di jalan, lalu setan laki-laki itu menyetubuhinya, sedang orang-orang menyaksikannya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)

Pentingnya Senantiasa Berhias untuk Suami

Saudariku, seorang suami akan semakin kuat kecintaannya pada kita ketika kita senantiasa berusaha tampil cantik dan menawan di depannya. Berusahalah menjaga penampilan saat bersamanya sehingga dapat menyenangkan pandangan matanya dan membahagiakan hatinya. Hal ini dapat membuat suami menjadi tenang dan tentram bersamamu. Itulah yang telah dicontohkan oleh para wanita shalihah di masa lalu, di mana mereka senantiasa memakai pakaian yang baik dan berhias ketika di rumah, yang hal itu dilakukan semata untuk suami mereka.

Bakrah binti Uqbah pernah menemui Aisyah dan bertanya mengenai pacar. Maka Aisyah menjawab bahwa itu merupakan pohon yang baik dan air yang suci. Lalu Bakrah menanyakan tentang melembutkan kuku, maka Aisyah berkata, “Apabila engkau mempunyai suami dan engkau mampu melembutkan bulu kedua matamu dan membuatnya lebih baik, maka lakukanlah.”

Berhias bukan berarti harus menggunakan berbagai macam make-up untuk dilekatkan di wajah kita. Berhias tidak harus mahal. Kita juga tidak harus berlama-lama di salon kecantikan untuk menjaga penampilan agar senantiasa mempesona di depan suami. Rajin-rajinlah menjaga kebersihan badan dengan mandi secara teratur. Perhatikan makanan Anda agar tidak menimbulkan bau badan. Jangan biarkan aroma tidak sedap menyebar dari tubuh Anda saat bersama suami.

Saudariku, janganlah engkau seperti kebanyakan wanita sekarang yang melupakan hak suaminya dan sibuk berdandan untuk orang lain. Bagaimana bisa seorang istri sibuk merias wajah dan badannya saat akan mengadakan acara di luar rumah yang itu membuat penampilannya dinikmati oleh laki-laki lain. Sementara saat di rumah ia hanya mengenakan pakaian kusut, rambut acak-acakan, bahkan tidak sempat mandi karena disibukkan oleh berbagai pekerjaan rumah tangga.

Saudariku, saya percaya engkau adalah muslimah cerdas yang tidak akan membiarkan diri sendiri terjebak dalam hal seperti itu. Ingatlah bahwa suamimu telah sibuk seharian berjibaku dengan amanahnya. Di luar sana ia melihat berbagai suguhan pemandangan yang tidak bisa dielakkan lagi. Rok mini, you can see, tank top, serta segala yang mini dan ketat yang dikenakan oleh kaum wanita yang asyik dengan dunia luarnya. Ingatlah bahwa semua itu dapat mengerosi hatinya, meruntuhkan ketegarannya, menyusahkan jiwanya. Basuhlah segala kelelahannya dengan keharuman nafasmu, binar matamu, dan penampilanmu yang mempesona. Rebutlah hatinya saat dia bersamamu, agar apa yang telah dia lihat di luar sana tidak memalingkan hatinya darimu. Jangan biarkan kesibukan dan keasyikanmu mengurus pekerjaan rumah menjadi alasan bagimu untuk mengabaikan penampilanmu sendiri di hadapan suami. Ingatlah saudariku, mengabaikan penampilan di depan suami berarti membuka celah bagi syetan untuk menjerumuskan suami dalam lubang maksiat.

Hak Istri atas Suami

Pertama, mendapatkan mahar

Mahar merupakan salah satu dari syarat-syarat nikah. Allah berfirman, “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Terjemah QS An Nisaa [4]: 4)

Kedua, diperlakukan dengan baik

Hendaklah seorang suami tidak kaku kepada istrinya, tetapi menunjukkan sikap dan perhatian yang baik sebagaimana ia menyukai istrinya bersikap demikian kepadanya. Allah berfirman,

“… Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Terjemah QS An Nisaa [4]: 19)

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang berakhlak paling baik kepada keluarganya, sebagaimana sabda beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling berbuat baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling berbuat baik kepada keluargaku.” (HR At Tirmidzi No. 3895)

Di antara akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam pergaulan dengan istrinya adalah selalu berseri, lemah lembut, dan bercanda.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya maka engkau mematahkannya. Dan jika engkau biarkan maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita.” (HR Bukhari No. 5185)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita sebab mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya maka tinggalkan mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika ia menaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahuilah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan.” (HR At Tirmidzi No. 1163 dan Ibnu Majah No. 5101)

Ketiga, mendapat nafkah yang layak sesuai kemampuan suami

Nafkah di sini meliputi makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Maka seorang istri berhak mendapatkan nafkah tersebut dari suaminya. Allah berfirman, “… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf ….” (Terjemah QS Al Baqarah [2]: 233)

Di ayat lain Allah berfirman,

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu.” (Terjemah QS Ath Thalaaq [65]: 6)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dalam perihal wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf.” (HR Muslim No. 1218)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan bahwa memberi nafkah kepada keluarga (istri dan anak-anak) bernilai pahala yang besar di sisi Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada budak, dan satu dinar yang kamu sedekahkan kepada fakir miskin, serta satu dinar kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang kamu nafkahkan untuk keluargamu.” (HR Muslim No. 995)

Juga dalam hadits beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika seorang muslim memberikan (nafkah) kepada keluarganya karena mencari pahala maka hal itu menjadi shadaqah baginya.” (HR Bukhari No. 55 dan Muslim No. 1002)

Dari Sa’ad radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa pun yang engkau berikan berupa nafkah kepada keluargamu maka engkau diberi pahala, hingga sesuap makanan yang engkau masukkan ke mulut istrimu.” (HR Bukhari No. 56 dan Muslim No. 1628)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengingatkan bahwa orang yang menelantarkan keluarganya tanpa memberi nafkah akan menanggung dosa. Beliau shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Cukuplah seseorang berdosa apabila menahan makanannya terhadap orang yang berada dalam kekuasaannya.” (HR Muslim No. 996)

Satu hal yang perlu diperhatikan terkait nafkah ini, seorang suami harus menghindari nafkah yang haram untuk keluarganya. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Ka’ab! Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dalam keharaman. Maka neraka lebih pantas untuknya.” (HR Ahmad No. 14032)

Begitu berhati-hatinya para istri salafush shalih, hingga mereka berkata kepada suaminya yang hendak bekerja, “Bertakwalah kepada Allah. Berhati-hatilah dengan usaha yang haram. Sebab kami tahan terhadap kelaparan dan kesulitan, tetapi kami tidak tahan terhadap api neraka.”

Dan jika kita lihat keadaan sekarang ini, sungguh banyak manusia yang mengabaikan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di mana urusan perut menjadi nomor pertama tanpa mengindahkan kaidah halal haram. Sehingga bisa kita lihat begitu maraknya kasus korupsi, riba, penipuan, dan perampokan. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga dari semua itu.

Keempat, dicemburui secara wajar

Seorang suami harus memiliki kecemburuan terhadap istrinya dalam hal yang wajar. Jika mendapati hal yang mencurigakan, wajib bagi seorang suami untuk cemburu demi menjaga kehormatan dan akhlak yang mulia. Misalnya seorang suami wajib cemburu jika istrinya dilihat orang lain dalam keadaan tidak berhijab. Atau jika seorang laki-laki bukan mahram masuk menemui istrinya.

Laki-laki yang membiarkan hal tersebut terjadi pada istrinya termasuk laki-laki yang tidak punya kecemburuan dan perlu dipertanyakan pemahamannya terhadap apa yang disyariatkan oleh Allah.

Adapun kecemburuan yang tanpa alasan, itu datangnya dari syetan yang berusaha merusak hubungan suami istri. Maka hendaklah setiap pasangan berhati-hati terhadap rasa cemburu yang singgah di hatinya, jangan sampai terperangkap pada perasaan cemburu buta.

Kelima, tidak mengetuk pintu rumah istri pada malam hari jika telah lama bepergian

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian telah lama bepergian maka janganlah ia mengetuk (pintu rumah) istrinya pada malam hari.” (HR Bukhari No. 5244)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu juga berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai seseorang mendatangi keluarganya pada malam hari.” (HR Bukhari No. 5243)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Jabir radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang laki-laki mengetuk pintu rumah istrinya pada malam hari untuk menuduh mereka berkhianat dan mencari kesalahan mereka.” (HR Muslim No. 715)

Dari Anas radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mendatangi keluarganya pada malam hari (jika dari bepergian lama). Beliau biasa mendatangi pada waktu pagi atau petang. (HR Muslim No. 185)

Peringatan ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya para suami tidak mencari-cari kesalahan istrinya atau menuduhnya melakukan pengkhianatan. Selain itu, menghindari pulang pada malam hari supaya para istri punya kesempatan untuk berdandan sehingga tidak kusut rambutnya.

Untuk masa sekarang, di mana para suami memiliki kesibukan kerja yang cukup tinggi dan terkadang kondisi mengharuskannya sampai di rumah pada malam hari setelah beberapa waktu berada di luar kota. Maka dengan telah berkembangnya teknologi komunikasi, tidak mengapa hal ini dilakukan asalkan mereka sudah memberitahukan akan kedatangannya sehingga istrinya bisa bersiap menyambutnya.

Keenam, menjaga istri dan anak-anak dari api neraka

Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Maka sudah menjadi kewajibannya untuk mengarahkan keluarganya agar mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar mereka senantiasa berada dalam ketaatan dan menegakkan syariat Allah. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang berfirman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Terjemah QS At Tahrim [66]: 6)

Karenanya, seorang suami perlu memberikan pengajaran dan bekal ilmu syar’i kepada istri dan keluarganya.

Ketujuh, berhak untuk tidak menaati suami dalam kemaksiatan

Seorang istri berhak bahkan wajib menolak jika suaminya mengajak kepada kemaksiatan. Istri tidak boleh taat kepada suami yang menyuruhnya melepaskan jilbab, berdandan di depan laki-laki lain, melakukan hubungan suami istri saat sedang haid ataupun melalui dubur, mendatangi dukun, meninggalkan shalat lima waktu, dan perbuatan maksiat lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR Ahmad No. 724)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah No. 179)