Misteri Angka 7

Ketika menulis buku “Makkah Madinah Kota Sejuta Mukjizat dan Keajaiban”, saya mengalami kesulitan yang cukup berat, apalagi saya memang belum pernah ke sana dan juga pencarian dalil-dalilnya yang lumayan sulit. Alhamdulillah, saya mendapat banyak input dari adik ipar yang alhamdulillah sedang menempuh studi Ilmu Hadits di Universitas Madinah. Hingga akhirnya buku tersebut bisa hadir dan dinikmati para pembaca. Harapan saya,  menulis buku tersebut agar menjadi jalan kemudahan bagi saya untuk ke sana (aamiin).

Dalam buku “Makkah Madinah Kota Sejuta Mukjizat dan Keajaiban”, saya tertegun ketika mencari-cari bahan untuk menulis pada bagian rangkaian ibadah haji. Saya menemukan bahwa dalam ibadah haji seperti umrah, thawaf, dan sa’i, terdapat angka 7. Ya, 7, bukan 3, 5, atau lainnya. Tetapi 7. Subhanallah … Saya pun mulai mencari tahu angka 7 yang lain, dan ternyata dalam Al Qur’an dan Hadits, banyak sekali disebutkan angka 7. Allah menghiasi berbagai perkara di dunia dan akhirat dengan angka 7.

Allah menciptakan langit dan bumi dalam 7 lapisan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surah Ath Thalaq [65] ayat 12, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Dalam surah Al Mulk [67] ayat 3 Allah berfirman yang artinya, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis ….”

Dalam surah Nuh [71] ayat 15 Allah berfirman yang artinya, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat.”

Angka 7 adalah angka yang pertama kali disebut dalam surah Al Baqarah [2] ayat 29 dan terakhir kali dalam surah An Naba’ [78] ayat 12.

Terjemah surah Al Baqarah [2] ayat 29, “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Dalam surah An Naba’ [78] ayat 12 Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh.”

Jika dihitung, jumlah surah dari Al Baqarah hingga An Naba’ adalah 77, sedang 77 merupakan kelipatan angka 7.

Angka 7 juga menunjukkan jumlah pintu neraka Jahannam. Allah berfirman dalam surah Al Hijr [15] ayat 44 yang artinya, “Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”

Allah pun membuat perumpamaan balasan bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah menggunakan angka 7 dan kelipatannya. Allah berfirmand alam surah Al Baqarah [2] ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Ada 7 golongan yang mendapat naungan Allah di Hari Kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.(1)Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula, (5) Seorang lelaki yang di ajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembuyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (Shahih Bukhari, Hadits no 620)

Setiap hari ada 70.000 malaikat yang masuk dan beribadah di Baitul Ma’mur. 70.000 merupakan kelipatan angka 7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Baitul Ma’mur berada di langit ketujuh setentang dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada 70.000 malaikat yang shalat di dalamnya kemudian apabila mereka telah keluar maka tidak akan kembali lagi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita agar memerintahkan anak untuk shalat pada usia 7 tahun. “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka 7 tahun dan pukullah mereka saat usia 10 tahun (jika belum juga mengerjakan shalat). Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Allah menimpakan azab kepada kaum ‘Ad selama 7 malam. Allah berfirman dalam surah Al Haqqah [69] ayat 6-7 yang artinya, Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kezhaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa hak menggunakan angka 7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang menzhalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya azab dari 7 bumi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersujud menggunakan 7 anggota tubuh. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan 7 tulang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan tahukah Anda, bahwa pelangi memiliki 7 warna: merah, jingga, hijau, biru, nila, dan ungu. Dan siapakah yang menciptakan pelangi? Dialah ALLAH.

Subhanallah ….

 

Advertisements

Mem-Besarkan Potensi Jama’ah

Dalam hidup berjama’ah, kita tentu saja sering dihadapkan dengan berbagai karakter dan kemauan. Terkadang kita berhadapan dengan orang yang begitu menyenangkan, terkadang pula dengan orang yang susah dipahami kemauan dan keinginannya. Dan sebagai kumpulan manusia, tentu saja hidup berjama’ah tidak selamanya mulus seperti jalan tol. Adakalanya kerikil-kerikil persoalan mewarnai untaian keharmonisan dan kemesraan. Tapi begitulah seninya berjama’ah, dengannya kita bisa belajar menghadapi dan menyikapi orang dengan keunikan pribadinya masing-masing.

Namun bagaimana pun juga, dengan segala kekurangan yang ada, hidup berjama’ah tetap memiliki energi tersendiri, yang kekuatannya dapat membangkitkan gairah dakwah yang lesu serta menyatukan hati-hati penghuninya dalam rengkuhan ukhuwah. Hidup berjama’ah memiliki energi yang jauh lebih besar untuk melakukan perubahan, percepatan, dan pengaruh, tentu saja ke arah yang lebih baik.

Dalam hidup berjama’ah, kita perlu pandai menggali potensi masing-masing anggota dan menempatkannya pada amanah yang sesuai dengan kapasitasnya. Kita juga perlu melejitkan potensi tersebut agar lebih berdaya guna.  Kita perlu sedikit mengesampingkan kekurangan masing-masing agar waktu tidak terbuang percuma. Berkutat pada kekurangan hanya membuat kita lupa akan potensi dan justru dapat meredupkan semangat.

Jama’ah dakwah merupakan kumpulan potensi yang siap berjuang menegakkan kalimatullah. Ibarat bangunan yang kokoh, satu sama lain seperti batu bata yang saling menguatkan dan melengkapi.  Satu sama lain siap untuk saling peduli, saling berbagi, saling mengisi. Satu sama lain saling berpadu menjadi kekuatan besar yang tetap kokoh berjuang di atas jalan sunnah. Karena masing-masing menyadari bahwa inilah pilihan terbaik, untuk bergerak bersama, untuk berderap bersama.

Rambu-rambu tarbiyah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

  • Sabar dan perlu nafas yang panjang

Mudah bagi seseorang untuk berinteraksi dengan benda mati dalam waktu lama. Tapi sulit untuk berinteraksi dengan manusia yang rumit. Lihatlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadapi berbagai keadaan dalam membina shahabat. Beliau sabar dalam membina mereka. Setinggi apa pun mereka, tetap mereka adalah manusia yang tidak ma’shum. Mereka juga melakukan beberapa kesalahan.

  • Pertemuan atau pembicaraan khusus yang ditujukan kepada beberapa shahabat

Di samping menyampaikan ceramah di depan khalayak, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menyampaikan nasehat, masukan khusus kepada beberapa shahabat. Setelah shalat ied, beliau bersama Bilal menemui kaum wanita lalu menasehati mereka. Dalam hadits Abu Said al Khudri, beliau juga menyediakan waktu khusus untuk kaum wanita. Dalam perang Hunain, beliau secara khusus memanggil orang-orang Anshar.

  • Terlibat dalam kegiatan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ikut terlibat dalam berbagai kegiatan dengan para shahabat. Beliau tidak hanya memberikan arahan. Beliau ikut dalam pembangunan masjid (sebagaimana hadits Anas di shahih Bukhari 428 dan Muslim 524). Beliau juga ikut menggali parit sebelum perang khandaq (sebagaimana hadits Sahl bin Sa’d di shahih Bukhari 6414 dan Muslim 1804). Beliau juga ikut berjihad sebanyak 19 kali (sebagaimana hadits di shahih Bukhari 3949 dan Muslim 1254).

  • Tarbiyah dengan peristiwa

Merupakan hal yang mudah, membahas sesuatu dari berbagai sisi. Namun pengaruhnya mungkin tidak akan besar. Namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengarahkan para shahabatnya dalam berbagai kesempatan. Beliau memberikan arahan pada waktunya yang tepat. Ketika Abu Bakar khawatir saat bersembunyi di gua, Nabi menenangkan Abu Bakar. Beliau juga menjelaskan keutamaan dakwah saat mengutus Ali bin Abi Thalib (sebagaimana hadits Sahl bin Sa’d di Shahih Bukhari 3009 dan Muslim). Arahan tersebut seandainya disampaikan kepada mereka saat mereka duduk di rumah, tentu tidak akan memberikan pengaruh seperti kalau disampaikan pada waktunya yang tepat.

  • Memilih dan menyeleksi tarbiyah pada asalnya ditujukan kepada semua pribad umat. Apa pun kedudukannya. Pria wanita, tua muda. Namun dakwah memerlukan orang-orang yang siap memikul. Maka perlu menyeleksi orang yang akan mengemban. Itulah sebabnya, kita menyaksikan dalam Sirah Nabawiyah, penyebutan Kibar shahabat, berulang-ulang. Terutama Abu Bakar dan Umar. Ini menunjukkan bahwa mereka mendapatkan tarbiyah yang lebih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan yang lain.
  • Bertahap

Aspek tarbiyah dalam diri manusia yang sangat luas dan banyak, menjadikannya sesuatu yang mustahil untuk bisa diwujudkan dalam waktu dan upaya yang singkat. Oleh karena itu, bertahap merupakan salah satu rambu penting dalam tarbiyah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimulai dari tauhid, kemudian perintah-perintah Allah. Seperti halnya keharaman khamr yang dilakukan bertahap. Namun hal penting yang harus diperhatikn bahwa, meski kita sepakat dengan prinsip bertahap ini, tapi tidak boleh kita menghalalkan yang telah diharamkan Allah. Juga tidak boleh menggugurkan yang harus dikerjakan.

Catatan tarbiyah 03 Desember 2011

Kesabaran dalam Dakwah

Seseorang datang kepada seorang ustadz. Ia mengadukan berbagai permasalahan dan berharap sang ustadz memberikan solusi (jalan keluar) yang praktis (gampang, mudah, dan cepat menyelesaikan masalah). Ketika sang ustadz mengatakan kepadanya, “Bersabarlah,” ia balik berkata, “Saya ingin solusi yang praktis.”

Manusia tidak pernah terlepas dari permasalahan hidup. Berat atau ringan suatu permasalahan yang dihadapi oleh seseorang tidak bisa dijadikan ukuran bagi orang lain. Ada pepatah yang mengatakan, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Artinya, kita selalu melihat orang lain lebih baik, lebih mujur, lebih bahagia, lebih … dan lebih segalanya dari kita. Kita melihat orang lain seakan tidak pernah susah, tidak pernah bersedih, tidak pernah punya masalah, dan selalu bahagia. Seperti itukah yang sebenarnya? Padahal, itu bisa jadi tanda bahwa kita―maaf―kurang pandai bersyukur atas nikmat Allah kepada kita.

Seperti yang saya sampaikan tadi, setiap kita pasti punya masalah. Terkadang masalah itu kita rasakan begitu berat, sehingga kita butuh orang lain membantu menemukan jalan keluar bagi permasalahan kita. Pun begitu, terkadang―malah sering mungkin―kita menganggap jalan keluar yang disarankan orang lain terasa aneh dan tidak akan mengatasi masalah. Salah satu contohnya adalah peristiwa di atas. Ketika sang ustadz menyarankan untuk sabar, yang diberi nasehat kembali berkata, “Saya ingin solusi yang praktis.” Pernahkah terpikir oleh kita, mengapa kata-kata itu―Saya ingin solusi yang praktis― diucapkan kepada sang ustadz?

Mungkinkah terlintas dalam pikiran kita, bahwa kita juga akan mengatakan hal yang sama? Apakah terlintas dalam pikiran kita bahwa solusi (jalan keluar) yang disampaikan oleh sang ustadz terasa aneh? Bagaimana mungkin kita disuruh bersabar sedangkan masalah kita membutuhkan penyelesaian dengan segera!

 Sabar.  Ya, sebagian orang menganggap sabar itu hanya sebatas di mulut saja. Pada kenyataannya, ketika dihadapkan pada masalah, sabar itu mustahil untuk dilaksanakan. Benarkah begitu?

Jika kita tahu dan paham arti sabar, kita tentu bisa dengan mudah melaksanakannya, tidak hanya sebatas ucapan. Coba sejenak kita perhatikan alam dan peristiwa di sekitar kita. Bukankah alam semesta juga diciptakan dan dijaga di atas pondasi sabar? Sebatang pohon mangga tidak mungkin tumbuh serta-merta. Pohon itu berasal dari benih yang tumbuh, lalu membentuk akar dan tunas kecil. Dengan bertambahnya waktu, batang mulai membesar, tumbuh dahan dan ranting, daun mulai lebat, dan tumbuhan menjadi kokoh. Perhatikan juga ketika seorang ibu mempunyai anak. Anak itu tidak hadir begitu saja, tapi melalui proses yang panjang dan membutuhkan waktu. Lihat juga bagaimana matahari terbit dan tenggelam serta bulan berganti-ganti bentuknya. Ingat juga ketika kita menanak nasi dan merebus air. Bahkan Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Semua peristiwa itu mengajarkan kepada kita bahwa setiap sesuatu harus disertai sabar, dengan proses.

Sebagai seorang muslim―semoga juga mukmin―, tidak ada salahnya kita selangkah lebih dekat dengan Al-Qur’an. Cobalah kita buka lembaran-lembaran kitab suci kita. Di sana banyak sekali firman Allah tentang sabar. Beberapa di antaranya dapat kita temukan dalam Surat Thaha ayat 132, Al-Kahfi ayat 28, Al-Baqarah ayat 45, Hud ayat 49, Ali Imran ayat 200, dan Al-Baqarah ayat 157. Masih banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang sabar. Marilah sejenak kita baca bersama salah satu terjemahan ayat Al-Qur’an tentang sabar, yaitu dalam Surat Az-Zumar ayat 10 sebagai berikut:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

 

Ayat di atas tentunya sangat menentramkan hati kita. Bahwa kesabaran berbuah pahala tanpa batas. Dan jika kita lihat perjalanan hidup para nabi, maka kita dapat menemukan bahwa mereka adalah kekasih Allah yang diuji dengan kesabaran. Kita lihat bagaimana Nabi Nuh as tetap bersabar setelah berdakwah selama 950 tahun meskipun diejek oleh kaumnya, bahkan keluarganya. Kita dapat menelusuri kisah ini dalam Surat Hud ayat 42―43. Nabi Ayyub mendapat ujian sakit selama 18 tahun dan beliau tetap bersabar. Coba renungkan bagaimana Nabi Ayyub berdoa kepada Allah yang diabadikan dalam Surat Al-Anbiya ayat 83. Dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling sabar. Beliau mendapat cacian, hinaan, dan makian, tetapi beliau tetap bersabar menyeru di jalan Allah. Kita dapat melihat jejak sejarah di mana Rasulullah lahir sebagai anak yatim, dilempari batu ketika berdakwah di Thaif, dilempari kotoran unta ketika sedang shalat di Ka’bah, diludahi ketika sedang berjalan ke masjid, dan berbagai ujian kesabaran lainnya. Marahkah Rasulullah? Apakah beliau menyerah dengan dakwahnya? Sekali-kali tidak. Bahkan beliau tetap istiqamah menyerukan Islam di bumi Allah.

Itulah manisnya kesabaran. Ya, kita dapat mereguknya setelah melalui serangkai ujian kesabaran yang mungkin baru akan berakhir seiring dengan habisnya jatah waktu kita di alam fana ini. Apakah kita akan merasa buntu, putus asa, lelah, kepayahan, dan futur―lesu, tak bersemangat― bahkan “lari” hanya karena beban dakwah yang tidak seberapa―bahkan tidak ada apa-apanya―dibandingkan segala jerih payah dan pengorbanan Rasulullah? Hanya karena masyarakat kita masih belum menunjukkan akhlak islami. Hanya karena kemusyrikan masih mendarahdaging di tengah masyarakat kita. Hanya karena remaja kita masih berjilbab gaul. Hanya karena sebagian besar masyarakat masih berorientasi dunia. Ya, semuanya hanya karena masih. Ya, masih …. Dan kita tidak tahu apa yang terjadi lima tahun ke depan, sepuluh tahun lagi, atau setelah kematian kita. Allah berkehendak memberikan hidayah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Bisa jadi kemenangan dakwah itu terwujud setelah raga kita habis dimakan cacing. Tapi, apapun itu, itulah kemenangan.

Seorang dai sejati—dan setiap orang muslim adalah dai—tidak pernah mengenal kata kecewa dan putus asa dalam langkah dakwahnya. Tidak ada kata kecewa karena semuanya Lillah. Tidak ada kata putus asa karena semua bernilai pahala―selama niat kita ikhlas―. Dan Allah tidak menilai hasil kita, tapi seberapa kesungguhan kita untuk tetap menjaga azzam dalam menegakkan dien (agama) ini, untuk tetap berada dalam manhaj salafush shalih. Kalau kita merasakan barisan dakwah ini mulai agak tidak rapat―longgar dan tidak rapi―, mungkin itulah teguran halus dari-Nya. Kita mungkin mengabaikan sedikit maksiat dengan alasan kemaslahatan umat. Kita mungkin menjalankan sedikit syubhat demi terjaganya ukhuwah. Atau kita mungkin menyentuh sedikit riba demi lancarnya dakwah. Kita mungkin sedikit longgar berinteraksi dengan lawan jenis demi kokohnya dakwah. Mungkin saja …, mungkin juga tidak. Atau kita mungkin terlalu bersemangat bergerak, terlalu bersemangat mencari orang untuk kita tarbiyah―didik dan bina akhlaknya demi bertambah banyaknya orang-orang baik―sementara kita “sedikit” mengabaikan pondasi utama kita. Kita mungkin terlalu bersemangat menanamkan pentingnya ukhuwah demi tegaknya dakwah, tapi kita “sedikit” lalai pentingnya menanamkan pondasi iman dan aqidah sampai menghujam di dasar hati mad’u (obyek dakhwah) kita―menghujam, tidak hanya sekedar menancap―. Mungkin saja …, mungkin juga tidak.

Jumlah tidak bisa menjadi parameter suatu kemenangan dakwah dan kita semua sudah mahfum akan hal itu. Tentunya masih segar dalam ingatan kita bagaimana jejak shirah Rasulullah dan shahabat dalam perang Badar dan Hunain. Bukankah itu pengajaran yang sangat berharga buat langkah dakwah kita ke depan? Bukankah kisah itu menunjukkan pada kita, bahwa kekuatan iman dan aqidah adalah senjata yang utama? Di sini saya tidak bermaksud mengesampingkan komponen ukhuwah karena bagaimana pun juga ukhuwah itu juga penting―sangat penting―. Akan tetapi, ukhuwah yang keropos―tanpa pondasi iman dan aqidah yang kuat―hanya seperti singa ompong. Gerak dakwah seperti ini tidak akan bertahan lama dan pada akhirnya akan tergilas zaman. Dan tentunya kita semua tidak mengharapkan hal itu terjadi.

Kita memang masih membutuhkan waktu yang sangat panjang demi tercapainya kemenangan dakwah. Dan di sinilah kesabaran kita diuji. Untuk itulah, mari bersama-sama kita rangkul insan-insan di sekitar kita, mari bersama-sama wujudkan ukhuwah dalam barisan kita. Dan jangan pernah sedikitpun mengesampingkan penanaman iman dan aqidah dalam hati-hati kita dan mereka. Mari saling tawashaubil haq tawashaubish shabr. Insya Allah kemenangan dakwah menanti kita. Dan insya Allah kesabaran kita berbuah kenikmatan menatap wajah-Nya. Allahu akbar!!!

percakapan sunyi untuk teman-teman seperjuangan di bumi Allah

Share