Murah Senyum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, senyum berarti gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit. Senyum merupakan hiasan wajah yang indah. Senyum tulus yang menghias wajah dapat menimbulkan rasa bahagia bagi yang melihatnya. Senyum tulus yang disuguhkan kepada orang lain dapat mencairkan kebekuan suasana.

Bagi orang dengan kepribadian ini, senyum itu mudah dan dampaknya luar biasa. Kepada orang yang baru dikenalnya, ia mudah tersenyum sehingga orang itu merasa dihargai. Mengawali senyum dengan orang yang baru dikenal dapat mengatasi kecanggungan interaksi dan membuat suasana menjadi menyenangkan. Kepribadian orang yang murah senyum ini sangat disukai orang karena ia menunjukkan sikap akrab dan pertemanan.

Seorang pelayan toko, pendidik, tenaga medis, pelayan rumah makan, terapis, public figure, semuanya perlu untuk memiliki karakter ini. Mereka adalah orang-orang yang sering bersinggungan dengan orang banyak. Senyum tulus yang mereka suguhkan kepada orang-orang yang datang dapat menjadi magnet tersendiri sehingga orang-orang tersebut berkesan. Senyum tulus seorang dokter kepada pasiennya dapat menjadi obat tersendiri yang membantu mempercepat kesembuhan pasien. Begitu juga seorang pelayan toko yang murah senyum, tentunya akan membuat orang-orang nyaman dan betah berbelanja ke toko tersebut.

Advertisements

Pendengar yang Baik

Diam itu emas. Ya, memang begitulah adanya. Diam mendengarkan sementara orang lain berbicara bukanlah hal setiap orang bisa melakukannya. Karenanya, pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh banyak orang. Orang merasa nyaman dan tenang berbicara ketika diberi ruang yang cukup. Apalagi ketika orang itu dirundung masalah dan ingin menumpahkan kesedihan ataupun kekhawatirannya, maka yang dibutuhkannya adalah seorang pendengar yang baik. Pendengar yang baik siap menyediakan telinganya untuk mendengar dan bersedia memberikan bahunya sebagai tempat bersandar.

Pendengar yang baik sangat memahami kebutuhan orang yang didengarnya. Ia tidak menyela pembicaraan dan berbicara ketika lawan bicaranya sudah selesai berbicara. Ia menghargai kata-kata orang lain yang ditujukan kepadanya. Dengan penuh kesabaran ia rela meluangkan waktunya untuk mencerna kata demi kata yang terucap dari orang yang didengarnya.  Ia menyadari bahwa dengan banyak diam dan mendengar, ia dapat belajar banyak hal. Belajar tenang, belajar sabar, belajar berkonsentrasi, belajar peduli.

Positif Thinking (Berpikir Positif)

Orang dengan karakter seperti ini tidak mudah berpikiran negatif terhadap orang lain. Ia enggan membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Ia lebih suka memandang sesuatu dari kacamata positif. Ia orang yang optimis, bukan pesimis. Baginya, harapan selalu ada. Ia selalu berpikir, bahwa bertemu jalan buntu bukan harga mati untuk berhenti, karena selalu ada peluang untuk membuka jalan baru. Ia tidak mudah putus asa dan selalu berusaha mencari jalan keluar atas persoalannya. Ia lebih suka memuji daripada mencela, bersyukur daripada mengeluh, berusaha daripada menyerah. Ia dapat memberi motivasi kepada orang lain yang sedang dirundung masalah dan membantu mengatasi persoalan orang tersebut.

Orang dengan kepribadian ini tidak mudah terpengaruh dengan orang di sekitarnya yang memberikan stempel atau tuduhan negatif kepada orang lain. Justru dia akan memberikan pembelaan kepada orang yang dituduh dengan mengatakan bahwa apa yang dituduhkan orang-orang tersebut belum tentu benar. Orang lain merasa senang bersamanya karena ia bukan orang yang mudah mencela. Kehadiran seorang positif thinking dapat memberi energi positif kepada orang-orang di sekitarnya.

Kepribadian ini membuat si positif thinker dapat merasakan beban yang lebih ringan dari yang sebenarnya. Ia bersikap tenang mengadapi persoalan hidup sesulit apa pun. Pandangan positif membantunya mengatasi situasi stres dengan lebih baik dan dapat mengubah hidup menjadi lebih baik. Karenanya, ia dapat menjalani hidup dengan ringan dan bahagia.

Orang yang mempunyai kepribadian ini mempunyai banyak keuntungan. Berpikir positif dapat membuat badan sehat dan tidak sakit-sakitan, mudah mengambil keputusan, hati yang selalu gembira, dan orang-orang sekitar yang mencintainya.

Kejujuran

Kejujuran ibarat mata uang yang laku di mana saja ia berada. Pribadi jujur selalu dicari di setiap tempat. Ia ibarat mutiara yang bersinar indah di tengah kedustaan manusia yang merajalela. Orang dengan kepribadian jujur tidak pernah berkata kecuali kebenaran. Ia tidak suka menipu dan berkata dusta. Ia jujur mengakui kesalahan ketika memang ia melakukannya. Ia tidak suka berpura-pura, mengada-ada, ataupun memutarbalikkan fakta.

Orang jujur akan menyampaikan sesuatu apa adanya. Di depan ataupun di belakang, apa yang diucapkannya tidak berbeda. Ketika ia memuji seseorang, maka pujiannya jujur, bukan seperti orang yang memuji di depan tapi mencela di belakang.

Orang jujur akan mengatakan hal yang benar sekalipun hal itu dapat merugikannya. Ketika melakukan kesalahan, ia tidak berusaha mencari kambing hitam. Ia dengan jujur mau mengakui kesalahannya dan berbesar hati menerima resiko akibat kesalahannya.

Memiliki Sifat Malu

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, malu berarti merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah) karena berbuat sesuatu yang kurang baik. Malu juga bisa berarti segan melakuan sesuatu karena ada rasa hormat. “Berbuatlah sesuka hatimu jika kamu tidak mempunyai rasa malu”. Ya, adanya rasa malu akan membuat seseorang berhati-hati dalam tindakannya agar tidak mempermalukan diri sendiri.

Sayangnya, sekarang ini sudah banyak orang yang tidak punya rasa malu. Menjadi waria, hubungan sesama jenis, pamer aurat, korupsi, dan menipu merupakan contoh perbuatan yang tidak tahu malu. Pelaku perbuatan tersebut sudah kehilangan rasa malu baik kepada Allah maupun kepada masyarakat. Mereka hanya berbuat untuk memenuhi kepuasan nafsunya tanpa berpikir panjang akan akibat buruk yang pasti bakal ditanggungnya.

Kehilangan rasa malu merupakan kerugian besar. Orang yang tidak punya rasa malu, jika terus tenggelam di dalamnya, lama-kelamaan hatinya akan mati. Akibatnya, ia akan terjebak pada fatamorgana. Segala perbuatan buruknya dia anggap biasa dan justru bangga ketika orang lain mengetahuinya. Sungguh kasihan orang seperti ini!

Rasa malu mencegah seseorang dari berbuat maksiat. Memiliki rasa malu ibarat mempunyai benteng kuat yang menjaga pemiliknya dari ketergelinciran berbuat tercela. Seorang yang pemalu bukanlah seorang yang minder. Seorang pemalu sangat menjaga dirinya dari perbuatan hina dan tercela, baik diketahui orang lain ataupun tidak. Ketika tidak ada orang yang melihat, seorang pemalu menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya sehingga ia tidak mau berbuat tercela.