Hak Suami atas Istri

DAUN KECILPertama, memimpin
Allah berfirman,
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh karena itu, wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (Terjemah QS An Nisaa [4]: 34)
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin kaum wanita dalam arti pemimpin, kepala, hakim dan pendidik jika ia menyimpang.

Kedua, ditaati selama tidak dalam kemaksiatan
Dalam Shahiihul Jaami’ disebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Wahai para wanita, seandainya kalian mengetahui hak suami kalian terhadap kalian, niscaya salah seorang di antara kalian akan bergegas mengusap debu dari wajah suaminya dengan salah satu bagian wajahnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Jika seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada manusia maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya.” (HR At Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/54). Hadits ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan seorang suami terhadap istrinya dan pentingnya seorang istri menaati suaminya.

Begitu pentingnya ketaatan seorang istri kepada suaminya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi peringatan kepada kaum wanita, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal dia selalu merasa butuh kepadanya.” (HR An Nasa’i dalam al Kubra No. 9135)
Diriwayatkan pula dari Husain bin Mihshan, ia berkata bahwa bibinya bercerita kepadanya, “Aku telah mendatangi Rasulullah untuk suatu keperluan, maka beliau bersabda, “Siapakah ini? Apakah engkau mempunyai suami?” Maka aku berkata, “Ya.” Beliau bersabda, “Bagaimana sikapmu kepadanya?” Aku menjawab, “Aku tidak mengecewakan selagi aku masih mampu melakukan.” Maka beliau bersabda, “Maka lihatlah di manakah kamu berada, sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu.” (HR Ahmad No. 26086)

Maksud dari hadits di atas, bahwa seorang wanita dapat masuk surga bila menaati suaminya atau masuk neraka bila durhaka kepadanya. Maka cukuplah hal ini menjadi renungan bagi para istri untuk mengoreksi sikapnya kepada suaminya.

Ketaatan seorang istri kepada suaminya, karena begitu besarnya hak suami, maka istri pun mendapat balasan surga jika memenuhi hak tersebut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya maka dikatakan kepadanya (pada hari Kiamat), ‘Masuklah ke dalam surge dari pintu mana saja yang kamu suka.” (HR Ahmad No. 1664 dan Ibnu Hibban No. 1296)

Ketiga, dijaga harta dan kehormatannya
Allah berfirman,
“Oleh karena itu, wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (Terjemah QS An Nisaa [4]: 34)

Begitu pula riwayat dari Abu Umamah (Al Bahili), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiada keuntungan yang lebih baik bagi orang mukmin sesudah takwa kepada Allah selain istri yang shalihah, yaitu istri yang apabila diperintah dia menaatinya, bila dipandang membuatnya bahagia, bila diberikan giliran kepadanya dia menunaikannya, dan bila suaminya tidak ada dia memelihara dirinya dan harta suaminya.” (HR Ibnu Majah No. 1857, didha’ifkan oleh Syaikh Al Albani)

Keempat, segera dipenuhi jika menghendaki jima’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya sehingga dia (suami) tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya hingga subuh.” (HR Bukhari No. 5194 dan Muslim No. 1436)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur lalu ia menolak ajakannya melainkan Rabb yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR Muslim No. 1436)

Penting untuk diperhatikan seorang istri bahwa ia berkewajiban segera memenuhi panggilan suaminya. Seorang suami yang sedang menginginkan istrinya, maka hal itu tidaklah mudah untuk dibendung. Ia memiliki dorongan syahwat yang kuat dan butuh menyalurkannya sesegera mungkin.

Penolakan seorang istri terhadap ajakan suaminya dapat menjadi gerbang hancurnya keharmonisan rumah tangga, apalagi jika hal itu sering terjadi. Penolakan tersebut secara tidak langsung seperti melecehkan kejantanan suami. Sikap istri yang seperti ini akan menimbulkan kesan negatif di hati suami dan sulit dilupakan. Dampak yang bisa dilihat adalah timbulnya berbagai persoalan rumah tangga dan emosi suami yang labil. Hal ini dapat memicu seorang suami untuk mencari jalan lain dalam memenuhi hasrat biologisnya.

Kelima, disusui dan diasuh anaknya
Anak adalah buah cinta dan kasih sayang. Istri memegang peranan besar untuk mengasuh dan mendidik anak karena ia lebih banyak di rumah dan berdekatan dengan anak-anaknya. Ia adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia memegang peranan penting dalam pendidikan anak terutama saat balita yang mana masa ini merupakan pondasi dan kunci awal pembentukan kepribadian anak di masa depan.

Seorang ibu berperan besar dalam mengasuh dan merawat anaknya sejak baru lahir karena bayi yang baru lahir membutuhkan susuan dan perawatan yang lembut dan penuh kehati-hatian. Allah berfirman,
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahu) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (Terjemah QS Al Baqarah [2]: 233)
Ayat tersebut memberikan bimbingan bagi para ibu agar menyusukan anaknya dengan sempurna, yaitu selama dua tahun.

Keenam, dilayani dan diurus rumahnya
Seorang istri punya kewajiban untuk mengurus rumah dengan segala pekerjaannya, memberi kenyamanan pada suami agar betah tinggal di rumah. Mengurus rumah dan pekerjaan yang ada di dalamnya adalah tugas alami bagi seorang istri dan secara normal mereka senang melakukannya.

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Jadi, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR Bukhari No. 5200 dan Muslim No. 1829)
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Asma’ binti Abu Bakar berkisah tentang dirinya dan suaminya, Az Zubair, “Az Zubair menikahiku sementara di bumi ini dia tidak mempunyai harta, hamba sahaya atau apa pun selain seekor unta untuk mengambil air dan seekor kuda, aku yang memberi makan kudanya dan mengambil air, aku menjahit timba dari kulit dan membuat adonan, aku sendiri tidak pandai membuat roti, yang membuat roti adalah para wanita Anshar tetanggaku, mereka adalah wanita-wanita baik, aku membawa biji kurma dari ladang az-Zubair yang berjarak sekitar dua pertiga farsakh hasil dari pemberian Rasulullah saw di atas kepala ….” (HR Bukhari No. 3151 dan Muslim No. 2182)

Perhatikanlah bagaimana Asma’ berusaha memberikan pelayanan yang baik kepada suaminya, bahkan dia rela berjalan jauh demi melayani suaminya.

Ketujuh, tidak mengizinkan istri memasukkan orang yang tidak disukainya
Dari Amr bin Al Ahwash radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah bahwa kalian mempunyai hak atas istri-istri kalian dan istri-istri kalian mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah mereka tidak memasukkan di tempat tidur kalian orang yang tidak kalian sukai dan tidak pula mengizinkan di rumah kalian kepada orang yang tidak kalian sukai.” (HR At Tirmidzi No. 1163)

Kedelapan, terkait pemberian izin ketika istri akan berpuasa sunah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak halal bagi wanita melaksanakan puasa sedangkan suaminya ada di rumah kecuali dengan seizinnya.” (HR Bukhari No. 5129 dan Muslim No. 1026)

Begitu besarnya hak suami atas istri sampai-sampai kedudukan puasa sunah pun mengalahkannya.

Kesembilan, tidak disakiti dan tidak dituntut kepada sesuatu yang melebihi kesanggupannya
Seorang istri semestinya bersifat qonaah dan tidak menuntut hal yang berlebihan kepada suaminya, apalagi jika dia mengetahui kondisi finansial suaminya yang tidak berlebih. Menuntut secara berlebihan kepada suami dapat menyakiti hatinya. Hal ini juga bisa menjadikan suami terjerumus pada kemaksiatan demi memenuhi tuntutan istri. Maka semestinya seorang istri berhati-hati dalam hal ini.

Bahkan para bidadari surga tidak rela jika para istri menyakiti suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya yang berasal dari kalangan bidadari berkata, ‘Jangan sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu. Dia hanyalah seorang yang lemah yang nyaris meninggalkanmu (untuk pergi) kepada kami.'” (HR At Tirmidzi No. 1174)

Kesepuluh, dihormati keluarganya dan didukung dalam berbakti kepada mereka
Ketaatan seorang wanita adalah kepada suaminya, sedang ketaatan seorang suami adalah kepada orang tuanya. Karenanya, seorang istri sudah semestinta berbuat baik kepada keluarga suaminya dan membantunya dalam berbakti terutama kepada ibunya.

Jangan sampai seperti yang terjadi pada masa sekarang ini, di mana sulit ditemui kerukunan antara menantu wanita dengan ibu mertuanya. Bagaimana wanita seperti ini bisa membantu suaminya berbakti kepada orang tua? Sudah selayaknya seorang istri lebih mengalah dan tidak mengedepankan ego dalam bergaul dengan ibu mertuanya sehingga dapat tercipta hubungan yang harmonis. Seorang suami tentu sangat gembira mendapati istrinya dapat bergaul secara baik dengan kedua orang tuanya terutama ibunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: