Berkah Pernikahan Syar’i

Akan kubagikan kisahku kepada pembaca, di mana aku mengawali bangunan pernikahanku dengan proses yang indah. Semoga pembaca dapat mengambil manfaat dan aku memperoleh balasan kebaikan atasnya.
Setelah melalui proses pencarian yang panjang dan melelahkan, hingga usiaku hampir kepala tiga …, alhamdulillah akhirnya Allah mempertemukanku dengan seorang laki-laki shalih menurut pandanganku, dan memang begitulah dia adanya.

Aku ingat sekali waktu itu, saat menerima sebuah amplop putih berisi biodata seorang ikhwan (laki-laki). Subhanallah …, belum pernah kurasakan perasaan seperti ini dalam proses-prosesku sebelumnya. Baru membaca biodatanya saja aku sudah menemukan perasaan aneh dalam hati, perasaan yang aku sendiri sulit menerjemahkannya. “Inilah orang yang kucari selama ini,” gumamku. Seorang laki-laki yang mempunyai visi pernikahan sama denganku, untuk menjalani kehidupan rumah tangga di atas jalan dakwah. Ada keinginan kuat dalam hatiku untuk menjalani proses dengan ikhwan tersebut hingga usai dan berakhir indah.

Entah mengapa, bunga-bunga bahagia mulai bersemi di hatiku, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Wajahnya seperti apa, aku juga tidak tahu. Sekuat tenaga aku berusaha menetralkan perasaan saat menjalani proses demi proses karena tidak menutup kemungkinan proses ta’arufku ini kandas di tengah jalan.

Jujur saja, aku tidak banyak mencari info tentang ikhwan ini. Aku percaya kepada wasilahku bahwa dia orang yang baik. Ketika aku mencoba mencari info lebih jauh ke pihak lain yang kuanggap mengenal baik ikhwan tersebut, lagi-lagi jawaban yang kudapatkan tidak beda jauh, “Dia orang yang baik dan shalih.” Akhirnya kuputuskan untuk tidak mencari info lagi dan menyerahkan semuanya pada Allah. Aku berdoa jika ikhwan ini jodohku, semoga dimudahkan bagi kami untuk bertemu dalam ikatan suci pernikahan. Kuluruskan niat dan kumulai tahapan-tahapan ta’aruf secara syar’i.

Akhirnya, setelah menjalani beberapa tahap proses, ikhwan tersebut memberi kabar kepadaku melalui wasilahnya bahwa dia akan melanjutkan proses. Bahagianya hatiku. Setelah penantian yang panjang …, akhirnya aku menemukannya juga. Serasa mendapat seteguk air dalam kehausanku. Ikhwan itu pun datang ke tempatku untuk nazhor sementara aku ditemani oleh saudara laki-lakiku. Gemetar hatiku dan tidak berani memandangnya lama-lama. Sekali kucuri pandang, mataku beradu dengan matanya, aku tak berani lagi menatapnya. Aku hanya sibuk melihat ke tempat lain untuk menetralkan rasa hatiku yang tidak menentu.

Setelah nazhor, bunga-bunga bahagia di hatiku makin merekah. Hingga wasilahku mengabarkan bahwa ibu ikhwan tersebut ingin bertemu denganku terlebih dahulu. Jika ibunya setuju denganku, maka ikhwan tersebut akan meminangku. Jika tidak, maka proses ta’aruf tidak dilanjutkan. Deg …! Aku benar-benar kalut. Bagaimana ini? Gelisah dan cemas rasa hatiku. Aku mulai ketakutan kalau-kalau ibunya tidak menerimaku. Apalagi beberapa kali kudengar ada akhwat yang kandas prosesnya gara-gara calon ibu mertuanya tidak setuju. Dan memang ketaatan seorang laki-laki adalah kepada ibunya. Aku hanya bisa pasrah dan memohon pertolongan-Nya. Berharap Allah menjaga hatiku apa pun yang terjadi dan memberikan yang terbaik untukku.

Tibalah saat pertemuanku dengan ibu calon mertua. Subhanallah …, cantik sekali. Aku jadi tidak PD dibuatnya. Ternyata beliau orang yang ramah dan baik hati. Alhamdulillah, kata wasilahku, begitu melihatku, beliau cocok dan tidak menghalangi proses kami. Aku bersyukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.

Maka proses ta’aruf pun kami lanjutkan dengan membicarakan seputar acara khitbah, walimah, mahar, dan sebagainya. Kami melakukan diskusi dan beberapa kesepatakan terkait hal-hal tadi dengan cara yang syar’i. Kami tidak bertemu langsung tapi berbicara dari balik hijab dan didamping wasilah.

Ada hal yang kadang membuatku tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Saat itu sang ikhwan melobi mahar yang kuminta, yaitu satu paket (8 jilid) kitab tafsir Ibnu Katsir yang waktu itu harganya berkisar satu juta. Menurutku, itu mahar yang cukup ringan dan aku memang membutuhkannya. Rupanya ikhwan tersebut keberatan dan hanya menyanggupi untuk memberikan mahar 1 jilid, yaitu jilid 8. Aku benar-benar kaget. Dalam hatiku, “Apa sebegitu tidak mampunya ikhwan ini?” Tapi berbekal wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tidak mempersulit mahar, aku pun melunak dan mempersilahkan ikhwan tersebut sesuai kesanggupannya. Wasilahku justru yang protes saat itu, supaya aku meminta lebih, atau diganti saja dengan cincin emas. Tapi aku menggeleng mantap. Aku sudah yakin dengan keputusanku dan tidak ada keraguan dengan prosesku kali ini.

Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya kami mencapai kesepakatan untuk menjalani akad nikah siri (tanpa melibatkan KUA) terlebih dahulu supaya bisa mengurus walimah syar’i. Keluargaku pun setuju. Akan tetapi, begitu mendapat masukan dari beberapa tetanggaku, rencana nikah siri pun dibatalkan. Mereka takut jika setelah nikah siri, suamiku melarikan diri dan tidak bertanggung jawab. Aku sudah mencoba memberikan argumen tetapi keluargaku tetap tidak setuju.

Setelah mempertimbangkan banyak hal dan diskusi dengan calon suamiku melalui wasilah, kami putuskan untuk melangsungkan khitbah, akad nikah, dan walimah satu paket. Artinya, dilangsungkan dalam hari yang sama. Keluargaku pun menyetujuinya.

Tibalah hari H. Aku sudah berunding dengan keluargaku untuk menyiapkan dua rumah untuk melangsungkan acara pernikahan. Satu rumahku sendiri, untuk menerima tamu laki-laki dan melangsungkan akad nikah. Satu lagi rumah kakakku yang alhamdulillah letaknya berdampingan dengan rumahku, untuk menerima tamu wanita.
Pagi hari calon suamiku didampingi wasilah dan keluarganya datang ke rumah dan melakukan khitbah untukku. Tidak lama berselang, perwakilan dari KUA datang untuk melangsungkan akad nikah. Ketika akad nikah akan dimulai, petugas dari KUA pun bertanya kepada calon suamiku, “Mas, apa yakin calon yang akan dinikahi seorang wanita?” Gerrr …, keluarga yang hadir pun tidak bisa menahan tawa.

Alhamdulillah, aku memang tidak disandingkan dengan calon suamiku sejak awal acara. Aku berada di rumah kakakku bersama keluarga wanitaku dan tamu-tamu wanita. Dan prosesi akad nikah tanpa menyandingkan calon mempelai laki-laki dan wanita memang hal yang masih asing di lingkunganku. Pun begitu, akad nikah berjalan dengan khidmat dan lancar. Aku pun tak dapat menahan genangan air mata bahagia saat para hadirin mengatakan, “Sah …, sah.” Alhamdulillah, akhirnya aku memperoleh predikat seorang istri. Ya, aku menjadi istri dari seorang laki-laki yang baru kulihat wajahnya sekilas, tapi aku yakin dengan kebaikan agamanya.

Tiba-tiba aku dipanggil oleh keluargaku, “Ke sini sebentar. Suamimu ingin bertemu.”
“Hah? Sekarang?”
“Iya, kapan lagi?”
“Tapi aku malu.”

Aku benar-benar malu ketika hendak dipertemukan dengan suamiku. Perasaanku campur aduk, tapi aku tidak punya pilihan lain. Sampai di depan kamar, aku menghentikan langkah hendak berbalik arah. Rasanya belum siap bertemu dengan suamiku. Tapi kakakku melihat gelagatku dan menarikku, menyuruhku masuk ke kamar sedang suamiku sudah menunggu di dalam.

Aku pun masuk sambil mengucapkan salam. Deg …, kulihat dia tersenyum. Aku hanya bisa tertunduk malu. Kujabat dan kucium tangannya. Apa yang dilakukan suamiku? Dia memegang ubun-ubunku dan berdoa. Subhanallah …, indah sekali mengenang masa-masa itu. Itulah pertemuan kedua di mana aku benar-benar bisa menatap wajah suamiku.
Kami tidak lama bersama karena acara walimah segera dimulai. Aku kembali bersama tamu wanita sementara suamiku ikut menjamu tamu laki-laki. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah proses walimah kami berjalan syar’i. Tetangga dan keluarga besar meski masih awam dengan cara tersebut, tetap datang dan ikut membantu pelaksanaan acara. Wasilahku tentu saja punya andil besar karena mereka mengawal proses kami sejak awal ta’aruf hingga lobi-lobi ke keluarga sampai dilangsungkannya akad nikah dan walimah.

Sekarang kami sudah dikaruniai dua anak. Alhamdulillah, kami menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kebahagian dan canda tawa. Meski sesekali terjadi perselisihan di antara kami, semua itu justru menjadi bumbu yang menguatkan cinta kami. Semoga kisahku ini menginspirasi para pembaca untuk memulai bangunan cintanya dengan cara yang benar. Percayalah, setelahnya Anda akan menemukan banyak jalan-jalan kemudahan terbuka dan terbentang lebar.

(taken from kisahnyata)

Advertisements

4 Responses

  1. Reblogged this on Rain, Rainbow, and Cloud and commented:
    Tuing. (muncul di depan layar)

    bismillaahirrohmaanirrohiim.
    Kembali menuliskan sesuatu di blog, walaupun cuma reblog (emotsenyum).
    Momentum lebaran ini, banyak acara bersama keluarga besar, dan karena suatu sebab, kehilangan passion untuk bikin tulisan. Tapi tetap seperti biasa, menjadi silent reader yang search sana-sini, kemudian menemukan beberapa blog yang bagus-bagus dan… boleh juga untuk difollow.

    Ini salah satu tulisan yang saya suka (senyum)
    Tulisan beliau yang lain juga lumayaan. Kebanyakan tentang rumah tangga, dan rata-rata true story. Cocok. Bisa diambil faedahnya.

    Tidak bermaksud mengkode (biasanya temen-temen pada heboh kalau saya memposting yang semacam ini) atau menggalau perahu yang belum berlabuh-labuh itu, wkwk. Tapi setelah membaca tulisan-tulisan seperti ini, paling tidak saya bisa tahu gambaran apa yang besok bakal saya hadapi, semoga pada waktunya nanti, kisah saya juga bisa seindah bahkan lebih indah dari kisah beliau ya. Aamiin. Keep calm aja deh –

  2. kisahnya menjadi menarik bu, karena dibuat oleh wanita yang merupakan pelakunya sendiri
    terimakasih sudah berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: