Akhi, Biarkan Aku Berlalu …

Akhi, biarkan aku berlalu. Terima kasih atas untaian sms nasehat yang hampir setiap hari engkau kirimkan. Sms yang banyak memotivasiku untuk berderap dalam bingkai dakwah. Jujur aku suka dengan bait-bait kata yang engkau kirimkan. Sms yang tidak jarang pula membius hatiku, membawanya melambung melintasi awan-awan impian tak bertepi. Tapi …, cukup sampai di sini saja akhi, tidak perlu engkau teruskan. Karena aku sadar ada noda di hatiku, noda yang selalu bertambah setiap kali aku menerima smsmu.

Akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi dering teleponmu memecah keheningan sepertiga malam untuk membangunkanku agar shalat lail. Itu hanya akan membuat sujud dan rukuk kita tak bemakna apa-apa di mataNYA.

Akhi, biarkan aku berlalu. Terima kasih atas pinjaman buku-buku yang mencerahkan hatiku untuk mengenal Islam lebih dalam. Tapi aku tidak ingin lagi, akhi. Biarkan aku mengembara sendiri menyusuri kajian keislaman dan perpustakaan, mencari murabbi, membentuk halaqah, serta berdiskusi dengan saudari-saudariku untuk menambah pemahaman keislamanku. Karena pilihan kedua ini lebih menenangkan dan menjaga hatiku.

Akhi, biarkan aku berlalu. Usah lagi menghubungiku untuk membantumu mengembangkan dakwah yang engkau rintis. Ajaklah para ikhwan agar engkau dapat mengkader mereka, dan biarkan aku berta’awun dengan saudari-saudariku. Ini lebih menjaga hati kita dari hujaman panah setan yang menyakitkan.

Akhi, biarkan aku berlalu. Usah engkau ulang kata-kata itu, bahwa aku begitu berarti bagimu. Jika memang engkau ingin, pinanglah aku, agar halal rayuanmu itu untukku. Tapi jika tidak, usah engkau obral rayuan itu. Simpanlah untuk pendamping hidupmu kelak.

Akhi, biarkan aku berlalu. Jangan berati langkah kakiku yang berusaha menjauh darimu. Justru karena cintaku padamu perpisahan ini kupinta, agar hati kita tetap terjaga untuk selalu mencitaiNYA. Meski terlalu halus setan memoles jalinan yang tidak wajar di antara kita, tapi hatiku selalu menjerit dan tersiksa. Jalinan ini kurasa seperti membangun istana pada salah satu sisinya, tetapi merobohkan pada sisi lainnya. Biarlah semua ini berakhir akhi, karena begitulah yang seharusnya. Biarlah kutitipkan rasa ini padaNYA, agar noda-noda hati dapat terkikis dan ketenangan hati kembali kurengkuh.

Selamat tinggal akhi. Semoga selalu berderap di jalan dakwah dengan kelurusan niat dan kebersihan hati.

*) terinspirasi dari curhatan para akhwat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: